RSS

askep vertigo

LAPORAN PENDAHULUAN

VERTIGO

 

A.       LANDASAN TEORI MEDIS

  1.                I.                   Pengertian

Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatic (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin,mual, muntah) dan pusing.

  1.             II.                   Etiologi

Menurut (Burton, 1990 : 170) yaitu :

  1. Lesi vestibular :
  • Fisiologik
  • Labirinitis
  • Menière
  • Obat ; misalnya quinine, salisilat.
  • Otitis media
  • “Motion sickness”
  • “Benign post-traumatic positional vertigo”
  1. Lesi saraf vestibularis
  • Neuroma akustik
  • Obat ; misalnya streptomycin
  • Neuronitis
  • vestibular
  1. Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal
  • Infark atau perdarahan pons
  • Insufisiensi vertebro-basilar
  • Migraine arteri basilaris
  • Sklerosi diseminata
  • Tumor
  • Siringobulbia
  • Epilepsy lobus temporal

Menurut

  1. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :
  • Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
  • Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan perdarahan.
  • Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.
  • Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
  • Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.
  1. Penyakit SSP :
  • Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia, hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok jantung.
  • Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
  • Trauma kepala/ labirin.
  • Tumor.
  • Migren.
  • Epilepsi.
  1. Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.
  2. Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.
  3. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.
  4. Intoksikasi.
  1.           III.                   Patofisiologi

Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50% disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya.

  1.          IV.                   Klasifikasi Vertigo

Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok :

  1. Vertigo paroksismal

Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi :

o    Yang disertai keluhan telinga :

Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa crania posterior, kelainan gigi/ odontogen.

o    Yang tanpa disertai keluhan telinga :
Termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).

o    Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi :
Termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo posisional paroksismal benigna.

  1. Vertigo kronis
    Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 47) serangan akut, dibedakan menjadi:

o    Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor serebelopontin.

o    Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan endokrin.

o    Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.

  1. Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur mengurang, dibedakan menjadi :

o    Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.

o    Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior.

Ada pula yang membagi vertigo menjadi :

  1. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.
  2. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual
  3.             V.                   Manifestasi klinik

Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.

  1.          VI.                   Pemerikasaan Penunjang
  2. Pemeriksaan fisik :
  • Pemeriksaan mata
  • Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
  • Pemeriksaan neurologik
  • Pemeriksaan otologik
  • Pemeriksaan fisik umum.
  1. Pemeriksaan khusus :
  • ENG
  • Audiometri dan BAEP
  • Psikiatrik
  1. Pemeriksaan tambahan :
  • Laboratorium
  • Radiologik dan Imaging
  • EEG, EMG, dan EKG.
  1.        VII.                   Penatalaksanaan Medis

Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) : Terdiri dari :

  1. Terapi kausal
  2. Terapi simtomatik
  3. Terapi rehabilitatif.

B.       LANDASAN TEORI KEPERAWATAN

I.          Pengkajian

Aktivitas / Istirahat

o   Letih, lemah, malaise

o   Keterbatasan gerak

o   Ketegangan mata, kesulitan membaca

o   Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.

o   Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.

Sirkulasi

o   Riwayat hypertensi

o   Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.

o   Pucat, wajah tampak kemerahan.

Integritas Ego

o   Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu

o   Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi

o   Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala

o   Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik).

Makanan dan cairan

o   Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).

o   Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)

o   Penurunan berat badan

Neurosensoris

o   Pening, disorientasi (selama sakit kepala)

o   Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.

o   Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.

o   Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.

o   Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore

o   Perubahan pada pola bicara/pola pikir

o   Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.

o   Penurunan refleks tendon dalam

o   Papiledema.

Nyeri/ kenyamanan

o   Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.

o   Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.

o   Fokus menyempit

o   Fokus pada diri sendiri

o   Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.

o   Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.

Keamanan

o   Riwayat alergi atau reaksi alergi

o   Demam (sakit kepala)

o   Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis

o   Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).

Interaksi sosial

o   Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit.

Penyuluhan / pembelajaran

o   Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga

o   Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone, menopause.

II.        Diagnosa Keperawatan (Doengoes, 1999:2021)

1.        Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.

Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang

Kriteria Hasil :

o    Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang

o    Tanda-tanda vital normal

o    pasien tampak tenang dan rileks.

Intervensi

Rasional

o    Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri.

o    Anjurkan klien istirahat ditempat tidur

o    Atur posisi pasien senyaman mungkin

o    Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

o    Kolaborasi untuk pemberian analgetik.

o    Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.

o    istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri.

o    posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.

o    relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman.

o    analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman

2.        Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.

Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat
Kriteria Hasil :

o    Mengidentifikasi prilaku yang tidak efektif

o    Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping yang di miliki.

o    Mengkaji situasi saat ini yang akurat

o    Menunjukkan perubahan gaya hidup yang diperlukan atau situasi yang tepat.

Intervensi Rasional
o    Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum.

o    Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya.

o    Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan

o    Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan yang dapat diajarkan.

o    Mengenal sejauh dan mengidentifikasi penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.

o    klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya dan menjadi lebih tenang.

o    agar klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan memberikan klien harapan dan semangat untuk pulih.

o    membuat klien merasa lebih berarti dan dihargai.

3.        Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.

Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.
Kriteria Hasil :

o    Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.

o    Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.

Intervensi Rasional
o    Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.

o    Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.

o    Diskusikan penyebab individual dari sakit kepala bila diketahui.

o    Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.

o    Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal

o    Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan.

o    megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya

o    dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.

o    untuk mengurangi kecemasan klien serta menambah pengetahuan klien tetang penyakitnya.

o    mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.

o    agar klien mampu melakukan dan merubah posisi/letak tubuh yang kurang baik.

o    dengan memperhatikan faktor yang berhubungan klien dapat mengurangi sakit kepala sendiri dengan tindakan sederhana, seperti berbaring, beristirahat pada saat serangan.

 ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

Nn. F. L DIRUANG INTERNA (VIP MATAHARI)

RS ALFATAH AMBON

DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN (VERTIGO)

  1. PENGKAJIAN DATA
  2. Identitas Klien

Nama                                       :  Ny.  N

Umur                                       :  53 Tahun

Jenis Kelamin                          :  Perempuan

Pendidikan                              :  SMP

Pekerjaan                                 :  Pedagang

Alamat                                                :  Waihaong

Tanggal Masuk RS                  :  08 – 10 – 2010, Pkl. 23. 10 WIT

Tanggal Pengkajian                 :  09 – 10 – 2010, Pkl. 09. 10 WIT

No. Register                            :  290114

Diagnose Medis                      :  Vertigo

Ruangan                                  :  Teratai

Nama Penangguang Jawab     :  Tn. H

Alamat                                                : Waihaong

  1. Riwayat Keperawatan
    1. Keluhan utama masuk RS : Nyeri kepala/sakit kepala
    2. Keluhan utama pengkajian:  Nyeri kepala/sakit kepala
    3. Keluhan yang menyertai   : Badan lemas, gelisah, kurang nafsu makan, rasa kepala berat, pusing, perasaan berputar bila berdiri, belakang kepala tegang, mual, muntah ±2x.
  1. Riwayat kesehatan utama
    1. Penyebab / factor Pencetus           : Aktifitas kerja yang berlebihan
    2. Sifat keluhan                                 : Hilang timbul
    3. Lokasi dan penyebaran                 : Seluruh kepala
    4. Skala keluhan                                : Sedang (4)
    5. Berlangsung selama                      : ± 5-10 menit
    6. Hal – hal yang :

ü  Memberatkan                          : Pada saat aktifitas berlebihan

ü  Meringankan                           : Tidak beraktivitas/berbaring ( istirahat )

  1. Catatan kronologis                        : ± 2 minggu yang lalu pasien sudah merasakan sakit kepala tetapi masih bisa diatasi dengan minum obat sakit kepala yaitu bodrex. Setelah itu sakit kepala sudah mulai berkurang. Tetapi pada tanggal 8 oktober 2010, jam 03.30, sakit kepala pasien kambuh lagi. Pasien minum obat lagi tapi tidak sembuh juga maka anak pasien membawa ibunya ke RSU Alfatah ambon dan tiba di IGD langsung ditangani oleh dokter dan di beri terapi :

ü  IVFD RL : D5%  1 : 3  30 tts/mnt

ü  Inj. Ranitidin 1 amp/12jam/iv

ü  Inj. Cefotaxime 1 gr/12jam/iv

ü  Inj. Ulceranin 1 amp/12jam/iv

Therapy oral :

ü  Merislon 3 x 1 tab

Kemudian pasien di bawa ke bangsal Interna ruang Teratai, tiba diruangan pukul 23.30 wit dengan :

ü  Kesadaran compos mentis

ü  KU lemah

ü  TD : 110/80 mmHg

ü  S : 36,50C

ü  N : 120 x/mnt

ü  R : 20 x/mnt.

  1. Riwayat kesehatan masa lalu
    1. Pasien tidak pernah masuk RS sebelumya
    2. Pasien tidak pernah menjalani pembedahan sebelumnya
    3. Tidak ada riwayat alergi.
    4. Pasien pernah merasakan pusing sebelumnya.
  1. Riwayat kesehatan keluarga
    1. Anggota keluarga tidak menderita penyakit yang sama
    2. Tidak ada  riwayat penyakit keturunan
    3. Genogram 3 generasi

x

x

Keterangan :

                        : Laki-laki

                        : Perempuan

: Pasien

——–         : Tinggal serumah

: Ikatan keluarga

: Meninggal

?                        : Lupa

  1. Pengkajian psikososial
    1. Persepsi pasien terhadap keadaannya : pasien menganggap semua yang dideritanya sekarang karena aktifitas dan beban kerja yang berlebihan
    2. Hubungan pasien dengan tenaga kesehatan selama di rawat di RS baik
    3. Harapan pasien terhadap kesehatannya agar cepat sembuh dan kembali bekerja seperti biasanya
  1. Keadaan spiritual pasien
    1. Kesadaran menjalankan ibadah : pasien jarang melakukan sholat karena kerja terus
    2. Pasien tidak pernah terlibat dalam kegiatan keagamaan
    3. Pasien yakin dan percaya pada Tuhan bahwa penyakitnya akan segera sembuh dan kembali bekerja lagi seperti biasanya
  1. Keadaan lingkungan perumahan pasien
    1. Status rumah         : tinggal bersama keluarga
    2. Kebersihan rumah : pasien dan keluarga mengatakan rumahnya bersih
    3. Kemampuan koping
      1. Pasien gelisah dengan penyakitnya
  1. Pola kegiatan Sehari – hari

Kegiatan

Sebelum sakit

Saat sakit

  1. Pola Makan

ü  Frekuensi

ü  Waktu makan

ü  Porsi makan yang dihabiskan

ü  Jenis makanan

ü  Makanan pantang / tidak disukai

ü  Keluhan

  1. Pola Minum

ü  Frekuensi

ü  Jenis minuman yang disukai

ü  Jenis minuman yang tidak disukai

ü  Perubahan selama sakit

ü  Komentar

  1. Pola eliminasi
  • BAK

ü  Frekuensi

ü  Warna

ü  Bau

ü  Kesulitan dalam berkemih

ü  Perubahan setelah sakit

ü  Keluhan

  • BAB :

ü  Frekuensi BAB dalam sehari

ü  Warna

ü  Konsistensi

ü  Komentar

  1. Istirahat Dan Tidur

ü  Tidur malam

ü  Tidur siang

ü  Apakah mudah terbangun

ü  Apa yang dapat menolong untuk tidur nyenyak

ü  Komentar

3 x sehari

Pagi, siang, malam

1 porsi

Nasi, ikan, sayur

Tidak ada

Tidak Ada

7 – 9 gelas / hr

Air putih, teh gula

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada keluhan

2 – 3 x/hari

Kuning

Pesing

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

1 -2 x/hari

Kuning kecoklatan

Lembek

Tidak ada keluhan

± 7 – 8 jam

± 1 – 2 jam

Tidak

Dalam keadaan tenang

Tidak ada keluhan

3x sehari

Pagi, siang, malam

1/2 porsi

Bubur, telur

Tidak ada

kurang nafsu makan

3 – 4 gelas / hr

Air putih

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

1 x/hari

Kuning

Pesing

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Belum BAB

-

-

Tidak ada keluhan

± 5 – 6 jam

± 1 jam

Tidak

Dalam suasana tenang,

Pasien mengatakan susah tidur jika sakit kepala

  1. Pemeriksaan Fisik Umum
    1. Pengamatan Umum

Keadaan umum              : Lemah

Tingkat Kesadaran         : Compos mentis

Ketangkapan                  : Orientasi terhadap orang, waktu dan tempat baik

  1. Tanda – tanda Vital

TD                                  : 100 / 70 mmHg

Nadi                               : 80 x / m

Pernapasan                     : 20 x / m

Suhu pada aksila            : 36,5 °C

  1. Pemeriksaan Fisik Neurologis
    1. Tingkat kesadaran
  • Secara responsitifitas                 : Respon baik
  • Dengan mengggunakan GCS    : E4 M6 V5
  1. Status mental
  • Afek                   : ekspresi wajah agak meringis dan pasien dapat mengungkapkan perasaannya sehubungan dengan sakit yang dialami
  • Berfikir               : kemampuan berpikir (intelektual) pasien baik
  • Bahasa                : baik, pasien dapat bicara spontan, menyebut nama dan menjawab pertanyaan
  • Memori   : baik, pasien dapat menceritakan kembali kejadian waktu pasien pertama kali merasakan sakit  kepalanya.
  1. Gerakan
  • Gerakan mata     : baik
  • Makan                : mengunyah dan menelan baik tetapi terkadang pasien merasa mual dan kadang muntah sehingga pasien tidak mau makan
  • Bergerak             : bila bergerak pasien merasa pusing dan sakit kepala
  • Berjalan              : pasien berjalan tegak dan seimbang tetapi harus di bantu karena pusing dan kelemahan otot
  • Berbicara            : kata-kata yang diucapkan pasien dapat dimengerti
  1. Sensasi
  • Peraba                : pasien dapat merasakan sentuhan, nyeri dan membedakan suhu
  • Pembauan           : baik, pasien dapat mencium dan membedakan bau
  • Pendengaran      : baik
  • Pengecapan        : baik
  1. Regulasi integrasi
    1. Pernapasan
  • Kecepatan    : 20 x/mnt
  • Irama            : teratur
  • Bunyi napas : vesikuler
  1. Sirkulasi
  • TD                            : 100/70 mmHg
  • Warna ekstremitas    : tidak anemis
  1. Eliminasi
  • Tidak ada kesulitan BAB/BAK
  1. Emosi
  • Dapat terkontrol dengan baik
  1. Status neurologis
  • Tingkat kesadaran    : compos mentis
  • Penampilan               : baik
  • Koordinasi               : baik
  • Memori                     : baik
  • Orientasi                   : baik
  • Kejang-kejang          : tidak ada
  1. Mengkaji otot
  • Kemampuan mengubah posisi         : pasien dapat mengubah posisinya dengan baik
  • Kekuatan otot                                  : lemah
  1. Mengkaji cara berjalan
  • Langkah dan irama  : pasien berjalan kadang-kadang masih membutuhkan bantuan dari keluarga
  • Keterbatasan gerak  : ada, terpasang IVFD
  1. Tindakan medis/pengobatan
  • IVFD RL : D5%  1 : 3  30 tts/mnt
  • Inj. Ranitidin 1 amp/12jam/iv
  • Inj. Cefotaxime 1 gr/12jam/iv
  • Inj. Ulceranin 1 amp/12jam/iv

Therapy oral :

  • Merislon 3 x 1 tab
  1. Pemeriksaan diagnostik
  • Hb                            : 12,4 gr/dl       (N : 10-14 gr/dl)
  • Leuco                       : 9000 mm3        (N : 4000-10000 mm3)
  1. KLASIFIKASI DATA

Data Subjektif  pasien mengatakan :

ü  Nyeri kepala/sakit kepala

ü  Badan lemas

ü  Rasa kepala berat

ü  Pusing

ü  Sifat keluhan                                 : Hilang timbul

ü  Lokasi dan penyebaran                 : Seluruh kepala

ü  Skala keluhan                                : Sedang (5)

ü  Berlangsung selama                      : ± 5-10 menit

ü  Perasaan berputar bila berdiri

ü  Kurang nafsu makan

ü  Belakang kepala tegang

ü  Mual

ü  Muntah ±2x

Data Objektif

ü  Gelisah

ü  Porsi makan yang dihabiskan ½  porsi

ü  Keadaan umum Lemah

ü  TD : 100 / 70 mmHg

ü  Kekuatan otot lemah

ü  Ekspresi wajah agak meringis

  1. ANALISA DATA

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

DS Pasien mengatakan :

ü  Nyeri kepala/sakit kepala

ü  Rasa kepala berat

ü  Pusing

ü  Sifat keluhan   : Hilang timbul

ü  Lokasi dan penyebaran: Seluruh kepala

ü  Skala keluhan              : Sedang (5)

ü  Berlangsung selama    : ± 5-10 menit

ü  Perasaan berputar bila berdiri

ü  Belakang kepala tegang

DO:

ü  Gelisah

ü  Cemas

ü  Ekspresi wajah agak meringis

DS : Pasien  mengatakan

ü  Kurang nafsu makan

ü  Mual

ü  Muntah ±2x

DO :

ü  Porsi makan yang dihabiskan ½  porsi

ü  Keadaan umum Lemah

ü  Kekuatan otot Lemah

DS : Pasien  mengatakan

ü  Pusing

DO :

ü  Gelisah

ü  Cemas

Stress dan ketegangan

Intake yang tidak adekuat, anoreksia

Ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat

Nyeri akut

Resiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Koping individual tak efektif

  1. PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Nyeri akut b/d stress dan ketegangan yang ditandai dengan :

DS keluarga mengatakan :

ü  Nyeri kepala/sakit kepala

ü  Rasa kepala berat

ü  Pusing

ü  Sifat keluhan                                 : Hilang timbul

ü  Lokasi dan penyebaran                 : Seluruh kepala

ü  Skala keluhan                                : sedang (5)

ü  Berlangsung selama                      : ± 5-10 menit

ü  Perasaan berputar bila berdiri

ü  Belakang kepala tegang

DO:

ü  Gelisah

ü  Cemas

ü  Ekspresi wajah agak meringis

  1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, anoreksia yang ditandai dengan :

DS : Keluarga  mengatakan

ü  Kurang nafsu makan

ü  Mual

ü  Muntah ±2x

DO :

ü  Porsi makan yang dihabiskan ½  porsi

ü  Keadaan umum Lemah

ü  Kekuatan otot Lemah

  1. Koping individual tak efektif b/d ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat yang ditandai dengan :

DS : Keluarga  mengatakan

ü  Pusing

DO :

ü  Gelisah

ü  Cemas

  1. PRIORITAS MASALAH
  2. Nyeri akut b/d stress dan ketegangan
  3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, anoreksia
  4. Koping individual tak efektif b/d ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat
Nama    : Ny.N

Umur    : 53  Tahun

Jk         : Perempuan

Nursing care planning

Ruangan             : Teratai

Bangsal               : Interna

Diagnosa Medis  : Vertigo

No

Diagnosa keperawatan

Perencanaan

Tujuan

Intervensi

Rasional

  1

2

3

Nyeri akut b/d stress dan ketegangan yang ditandai dengan :

DS keluarga mengatakan :

ü  Nyeri kepala/sakit kepala

ü  Rasa kepala berat

ü  Pusing

ü  Sifat keluhan   : Hilang timbul

ü  Lokasi dan penyebaran                       : Seluruh kepala

ü  Skala keluhan  : sedang (5)

ü  Berlangsung selama    : ± 5 menit

ü  Perasaan berputar bila berdiri

ü  Belakang kepala tegang

DO:

ü  Gelisah

ü  Cemas

ü  Ekspresi wajah agak meringis

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, anoreksia yang ditandai dengan :

DS : Keluarga  mengatakan

ü  Kurang nafsu makan

ü  Mual

ü  Muntah ±2x

DO :

ü  Porsi makan yang dihabiskan ½  porsi

ü  Keadaan umum Lemah

ü  Kekuatan otot Lemah

Koping individual tak efektif b/d ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat yang ditandai dengan :

DS : Keluarga  mengatakan

ü  Pusing

DO :

ü  Gelisah

ü  Cemas

Nyeri teratasi dengan krietria :

ü  Nyeri hilang

ü  Skala nyeri 0

ü  Tidak pusing

ü  Tidak gelisah dan cemas

ü  Ekspresi wajah ceria

Kebutuhan nutrisi adekuat dengan criteria :

ü  Nafsu makan membaik

ü  Mual dan muntah hilang

ü  Porsi yang disediakan dihabiskan

Koping individu efektif dengan kriteria :

ü  Tidak pusing

ü  Tidak gelisah

ü  Tidak cemas

  1. Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
  2. Anjurkan klien istirahat ditempat tidur.
  3. Atur posisi pasien senyaman mungkin
  4. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
  5. Kolaborasi untuk pemberian analgetik.

  1. Ciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman
  1. Timbang dan catat BB dalam seminggu sekali
  1. Berikan perawatan mulut
  1. Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering dan anjurkan pasien untuk diet rendah gula
  1. Berkolaborasi dengan  ahli gizi dalam pemberian terapi diet yang sesuai indikasi
  2. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antimietik
  1. Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum.
  1. Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya.
  1. Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan.
  2. Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan yang dapat diajarkan.
  1. Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
  2. istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri.
  3. posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
  4. relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
  5. analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.

  1. Dapat meningkatkan selera makan pasien dan mengurngi stimulus pusat muntah di medulla
  2. Memberikan informasi tentang keadekuatan masukan diet/penentuan pemenuhan kebutuhan nutrisi
  3. Mengurangi ketidaknyamanan yang b/d mual dan muntah. Mulut yang bersih dapat meningkatkan nafsu makan
  4. Dapat mencegah peningkatan asam lambung dan diet rendah gula dapat mempercepat proses penyembuhan
  5. Dengan pemberian terapi dapat mencegah peningkatan kadar gula dalam darah
  1. Untuk menjaga hipersekresi asam lambung
  1. Mengenal sejauh mana dan mengidentifikasi penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
  2. klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya dan menjadi lebih tenang.
  3. agar klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan memberikan klien harapan dan semangat untuk pulih.
  4. membuat klien merasa lebih berarti dan dihargai.

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

NO DX

IMPLEMENTASI

EVALUASI

 1.

2.

3.

Tanggal 09-10-2010

Jam 10.30 wit

  1. Mengukur/memantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri

Hasil:

-          Nyeri kepala

-          Skala nyeri: sedang (5)

-          Ekspresi wajah tampak meringis

-          Pusing

-          TD : 100/70 mmHg

-          Nadi : 80 x/m

-          Suhu : 37 0C

-          Respirasi : 20 x/m

Jam 10.40 wit

  1. Menganjurkan dan membantu klien untuk istirahat ditempat tidur

Hasil:

-          Klien istrahat ditempat tidur dengan posisi setengah duduk.

Jam 11.20 wit

  1. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik dengan melanjutkan terapi yang telah ada yaitu merislon tab

Hasil:

-          Pasien minum obat dengan baik

Tanggal 09-10-2010

Jam 11.10 wit

  1. Menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman pada saat klien makan

Hasil:

-          Lingkungan tenang dan bersih serta klien bisa makan

Jam 11. 15 wit

  1. Menganjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering dan menganjurkan pasien untuk diet rendah gula

Hasil:

-          Porsi  makan yang dihabiskan ¾ porsi

-          Klien masih mual

Jam 11.20 wit

  1. Melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antimietik yaitu pemberian injeksi ulceranin 1 amp/iv

Hasil:

-          Obat diberikan dengan baik dan pasien tenang

Tanggal 09-10-2010

Jam 10.50 wit

  1. Menyarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya

Hasil:

-          Klien menceritakan masalah kerja yang terlalu banyak dilakukannya.

Jam 10.55 wit

  1. Memberikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan dengan menyampaikan kepada klien bahwa penyebab sakit kepala klien adalah karena beban kerja yang berlebihan dan untuk tidak merasa sakit kepala harus dikurangi beban kerja yang selama ini dilakukan atau istrahat beberapa jam diantara waktu lowong kerja atau minta ijin istrahat beberapa hari di rumah.

Hasil:

-          Pasien mengerti dan paham

Tanggal 09–10-2010

Jam 13.20 wit

S: pasien mengatakan:

-          Nyeri berkurang

O:

-          Skala nyeri 3

-          Pasien tampak mulai tenang

-          Pasien masih pusing

-          TD : 130/80 mmHg

-          Nadi : 80 x/m

-          Suhu : 37 0C

-          Respirasi : 20 x/m

A: Masalah sebagian teratasi

P: intervensi dilanjutkan

1.      Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10).

2.      Kolaborasi untuk pemberian analgetik

Tanggal 09-10-2010

Jam 13.25 wit

S: pasien mengatakan:

-          Nafsu makan meningkat

-          Mual berkurang

O:

-          KU mulai membaik

A: Resiko infeksi tidak terjadi

P: Intervensi 1,2,3 dilanjutkan

  1. Ciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman
  2. Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering dan anjurkan pasien untuk diet rendah gula
  3. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antimietik

Tanggal 09- 10- 2010

Jam 13.30 wit

S: pasien mengatakan

-          Masih pusing

O:

-          Pasien mulai tampak tenang

A: masalah teratasi

P: Intervensi dihentikan

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 15 Mei 2011 in Uncategorized

 

Tag: ,

askep IMA

LAPORAN PENDAHULUAN

 

I.         KONSEP MEDIS

Pengertian

Infark Miokard Akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu.

Fisiologi Sirkulasi Koroner

Arteri koroner kiri memperdarahi sebagaian terbesar ventrikel kiri, septum dan atrium kiri. Arteri koroner kanan memperdarahi sisi diafragmatik ventrikel kiri, sedikit bagian posterior septum dan ventrikel serta atrium kanan. Nodus SA lebih sering diperdarahi oleh arteri koroner kanan daripada kiri. (cabang sirkumfleks). Nodus AV 90% diperdarahi oleh arteri koroner kanan dan 10% diperdarahi oleh arteri koroner kiri (cabang sirkumfleks). Dengan demikian, obstruksi arteri koroner kiri sering menyebabkan infark anterior dan infark inferior disebabkan oleh obstruksi arteri koroner kanan.

Patogenesis

Umumnya IMA didasari oleh adanya ateroskeloris pembuluh darah koroner. Nekrosis miokard akut hampir selalu terjadi akibat penyumbatan total arteri koronaria oleh trombus yang terbentuk pada plak aterosklerosis yang tidak stabil, juga sering mengikuti ruptur plak pada arteri koroner dengan stenosis ringan (50-60%).

Kerusakan miokard terjadi dari endokardium ke epikardium, menjadi komplit dan ireversibel dalam 3-4 jam. Secara morfologis, IMA dapat terjadi transmural atau sub-endokardial. IMA transmural mengenai seluruh dinding miokard dan terjadi pada daerah distribusi suatu arteri koroner. Sebaliknya pada IMA sub-endokardial, nekrosis terjadi hanya pada bagian dalam dinding ventrikel.

Patofisiologi

Dua jenis kelainan yang terjadi pada IMA adalah komplikasi hemodinamik dan aritmia. Segera setelah terjadi IMA daerah miokard setempat akan memperlihatkan penonjolan sistolik (diskinesia) dengan akibat penurunan ejection fraction, isi sekuncup (stroke volume) dan peningkatan volume akhir distolik ventrikel kiri. Tekanan akhir diastolik ventrikel kiri naik dengan akibat tekanan atrium kiri juga naik. Peningkatan tekanan atrium kiri di atas 25 mmHg yang lama akan menyebabkan transudasi cairan ke jaringan interstisium paru (gagal jantung). Pemburukan hemodinamik ini bukan saja disebakan karena daerah infark, tetapi juga daerah iskemik di sekitarnya. Miokard yang masih relatif baik akan mengadakan kompensasi, khususnya dengan bantuan rangsangan adrenergeik, untuk mempertahankan curah jantung, tetapi dengan akibat peningkatan kebutuhan oksigen miokard. Kompensasi ini jelas tidak akan memadai bila daerah yang bersangkutan juga mengalami iskemia atau bahkan sudah fibrotik. Bila infark kecil dan miokard yang harus berkompensasi masih normal, pemburukan hemodinamik akan minimal. Sebaliknya bila infark luas dan miokard yang harus berkompensasi sudah buruk akibat iskemia atau infark lama, tekanan akhir diastolik ventrikel kiri akan naik dan gagal jantung terjadi. Sebagai akibat IMA sering terjadi perubahan bentuk serta ukuran ventrikel kiri dan tebal jantung ventrikel baik yang terkena infark maupun yang non infark. Perubahan tersebut menyebabkan remodeling ventrikel yang nantinya akan mempengaruhi fungsi ventrikel dan timbulnya aritmia.

Perubahan-perubahan hemodinamik IMA ini tidak statis. Bila IMA makin tenang fungsi jantung akan membaik walaupun tidak diobati. Hal ini disebabkan karena daerah-daerah yang tadinya iskemik mengalami perbaikan. Daerah-daerah diskinetik akibat IMA akan menjadi akinetik, karena terbentuk jaringan parut yang kaku. Miokard sehat dapat pula mengalami hipertropi. Sebaliknya perburukan hemodinamik akan terjadi bila iskemia berkepanjangan atau infark meluas. Terjadinya penyulit mekanis seperti ruptur septum ventrikel, regurgitasi mitral akut dan aneurisma ventrikel akan memperburuk faal hemodinamik jantung.

Aritmia merupakan penyulit IMA tersering dan terjadi terutama pada menit-menit atau jam-jam pertama setelah serangan. Hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan masa refrakter, daya hantar rangsangan dan kepekaaan terhadap rangsangan. Sistem saraf otonom juga berperan besar terhadap terjadinya aritmia. Pasien IMA inferior umumnya mengalami peningkatan tonus parasimpatis dengan akibat kecenderungan bradiaritmia meningkat, sedangkan peningkatan tonus simpatis pada IMA inferior akan mempertinggi kecenderungan fibrilasi ventrikel dan perluasan infark.

Gejala Klinis

Keluhan yang khas ialah nyeri dada retrosternal, seperti diremas-remas, ditekan, ditusuk, panas atau ditindih barang berat. Nyeri dapat menjalar ke lengan (umumnya kiri), bahu, leher, rahang bahkan ke punggung dan epigastrium. Nyeri berlangsung lebih lama dari angina pectoris dan tak responsif terhadap nitrogliserin. Kadang-kadang, terutama pada pasien diabetes dan orang tua, tidak ditemukan nyeri sama sekali. Nyeri dapat disertai perasaan mual, muntah, sesak, pusing, keringat dingin, berdebar-debar atau sinkope. Pasien sering tampak ketakutan. Walaupun IMA dapat merupakan manifestasi pertama penyakit jantung koroner namun bila anamnesis dilakukan teliti hal ini sering sebenarnya sudah didahului keluhan-keluhan angina, perasaan tidak enak di dada atau epigastrium.

Kelainan pada pemeriksaan fisik tidak ada yang spesifik dan dapat normal. Dapat ditemui BJ yakni S2 yang pecah, paradoksal dan irama gallop. Adanya krepitasi basal menunjukkan adanya bendungan paru-paru. Takikardia, kulit yang pucat, dingin dan hipotensi ditemukan pada kasus yang relatif lebih berat, kadang-kadang ditemukan pulsasi diskinetik yang tampak atau berada di dinding dada pada IMA inferior.

 

Diagnosis Banding

Angina Pectoris tidak stabil/insufisiensi koroner akut.

Diseksi aorta (nyeri dada umumnya sangat hebat, dapat menjalar ke perut dan punggung).

Kelainan saluran cerna bagian atas (hernia diafragmatika, esofagitis refluks)

Kelainan lokal dinding dada (nyeri bersifat lokal, bertambah dengan tekanan atau perubahan posisi tubuh)

Kompresi saraf (terutama C8, nyeri pada distribusi saraf tersebut)

Kelainan intra-abdominal (kelainan akut, pankreatitis dapat menyerupai IMA)

Komplikasi

-      Aritmia

-      Bradikardia sinus

-      Irama nodal

-      Gangguan hantaran atrioventrikular

-      Gangguan hantaran intraventrikel

-      Asistolik

-      Takikardia sinus

-      Kontraksi atrium premature

-      Takikardia supraventrikel

-      Flutter atrium

-      Fibrilasi atrium

-      Takikardia atrium multifocal

-      Kontraksi prematur ventrikel

-      Takikardia ventrikel

-      Takikardia idioventrikel

-      Flutter dan Fibrilasi ventrikel

-      Renjatan kardiogenik

-      Tromboembolisme

-      Perikarditis

-      Aneurisme ventrikel

-      Regurgitasi mitral akut

-      Ruptur jantung dan septum

Prognosis

Beberapa indeks prognosis telah diajukan, secara praktis dapat diambil pegangan 3 faktor penting yaitu:

Potensial terjadinya aritmia yang gawat (aritmia ventrikel dll)

Potensial serangan iskemia lebih lanjut.

Potensial pemburukan gangguan hemodinamik lebih lanjut (bergantung terutama pada luas daerah infark).

 

II.       LANDASAN TEORI KEPERAWATAN

 

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:

Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:

1.     Aktivitas/istirahat:

Gejala:

- Kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur

Riwayat pola hidup menetap, jadual olahraga tak teratur

Tanda:

Takikardia, dispnea pada istirahat/kerja

2.    Sirkulasi:

Gejala:

- Riwayat IM sebelumnya, penyakit arteri koroner, GJK, masalah TD, DM.

Tanda:

TD dapat normal atau naik/turun; perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk/berdiri.

Nadi dapat normal; penuh/tak kuat atau lemah/kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat; tidak teratur (disritmia) mungkin terjadi.

BJ ekstra (S3/S4) mungkin menunjukkan gagal jantung/penurunan kontraktilitas atau komplian ventrikel

Murmur bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot papilar.

Friksi; dicurigai perikarditis

Irama jantung dapat teratur atau tak teratur.

Edema, DVJ, edema perifer, anasarka, krekels mungkin ada dengan gagal jantung/ventrikel.

Pucat atau sianosis pada kulit, kuku dan membran mukosa.

3.    Integritas ego:

Gejala:

Menyangkal gejala penting.

Takut mati, perasaan ajal sudah dekat

Marah pada penyakit/perawatan yang ‘tak perlu’

Kuatir tentang keluarga, pekerjaan dan keuangan.

Tanda:

Menolak, menyangkal, cemas, kurang kontak mata

Gelisah, marah, perilaku menyerang

Fokus pada diri sendiri/nyeri.

4.    Eliminasi:

Tanda:

Bunyi usus normal atau menurun

5.    Makanan/cairan:

Gejala:

Mual, kehilangan napsu makan, bersendawa, nyeri ulu hati/terbakar.

Tanda:

Penurunan turgor kulit, kulit kering/berkeringat, Muntah, Perubahan berat badan

6.    Hygiene:

Gejala/tanda:

Kesulitan melakukan perawatan diri.

7.    Neurosensori:

Gejala:

Pusing, kepala berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk/istirahat)

Tanda:

Perubahan mental

Kelemahan

8.    Nyeri/ketidaknyamanan:

Gejala:

Nyeri dada yang timbul mendadak (dapat/tidak berhubungan dengan aktifitas), tidak hilang dengan istirahat atau nitrogliserin.

Lokasi nyeri tipikal pada dada anterior, substernal, prekordial, dapat menyebar ke tangan, rahang, wajah. Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher.

Kualitas nyeri ‘crushing’, menusuk, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat.

Instensitas nyeri biasanya 10 pada skala 1-10, mungkin pengalaman nyeri paling buruk yang pernah dialami.

Catatan: nyeri mungkin tak ada pada pasien pasca operasi, dengan DM, hipertensi dan lansia.

Tanda:

Wajah meringis, perubahan postur tubuh.

Menangis, merintih, meregang, menggeliat.

Menarik diri, kehilangan kontak mata

Respon otonom: perubahan frekuensi/irama jantung, TD, pernapasan, warna kulit/kelembaban, kesadaran.

9.    Pernapasan:

Gejala:

Dispnea dengan/tanpa kerja, dispnea nokturnal

Batuk produktif/tidak produktif

Riwayat merokok, penyakit pernapasan kronis

Tanda:

Peningkatan frekuensi pernapasan

Pucat/sianosis

Bunyi napas bersih atau krekels, wheezing

Sputum bersih, merah muda kental

10.  Interaksi sosial:

Gejala:

Stress saat ini (kerja, keuangan, keluarga)

Kesulitan koping dengan stessor yang ada (penyakit, hospitalisasi)

Tanda:

Kesulitan istirahat dengan tenang, respon emosi meningkat

Menarik diri dari keluarg

11.  Penyuluhan/pembelajaran:

Gejala:

Riwayat keluarga penyakit jantung/IM, DM, Stroke, Hipertensi, Penyakit Vaskuler Perifer

Riwayat penggunaan tembakau

Tes Diagnostik

Tes diagnostik yang sering dilakukan diuraikan pada tabel berikut:

Jenis Pemeriksaan Interpretasi Hasil
EKG

Laboratorium:

Enzim/Isoenzim Jantung

Radiologi

Ekokardiografi

Radioisotop

Masa setelah serangan:

Beberapa jam: variasi normal, perubahan tidak khas sampai adanya Q patologis dan elevasi segmen ST

Sehari/kurang seminggu: inversi gelombang T dan elvasi ST berkurang

Seminggu/beberapa bulan: gelombang Q menetap

Setahun: pada 10% kasus dapat kembali normal.

Peningkatan kadar enzim (kreatin-fosfokinase atau aspartat amino transferase/SGOT, laktat dehidrogenase/-HBDH) atau isoenzim (CPK-MB)merupakan indikator spesifik IMA. Tidak banyak membantu diagnosis IMA tetapi berguna untuk mendeteksi adanya bendungan paru (gagal jantung), kadang dapat ditemukan kardiomegali.

Dapat tampak kontraksi asinergi di daerah yang rusak dan penebalan sistolik dinding jantung yang menurun. Dapat mendeteksi daerah dan luasnya kerusakan miokard, adanya penyulit seperti anerisma ventrikel, trombus, ruptur muskulus papilaris atau korda tendinea, ruptur septum, tamponade akibat ruptur jantung, pseudoaneurisma jantung.

Berguna bila hasil pemeriksaan lain masih meragukan adanya IMA.

III.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

 

Nyeri akut b/d iskemia miokard akibat sumbatan arteri koroner.

Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai oksigen miokard dengan kebutuhan tubuh.

Kecemasan (uraikan tingkatannya) b/d ancaman/perubahan kesehatan-status sosio-ekonomi; ancaman kematian.

(Risiko tinggi) Penurunan curah jantung b/d perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik jantung; penurunan preload/peningkatan tahanan vaskuler sistemik; infark/diskinetik miokard, kerusakan struktuaral seperti aneurisma ventrikel dan kerusakan septum.

(Risiko tinggi) Perubahan perfusi jaringan b/d penurunan/sumbatan aliran darah koroner.

(Risiko tinggi) Kelebihan volume cairan b/d penurunan perfusi ginjal; peningkatan natrium/retensi air; peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma.

Kurang pengetahuan (tentang kondisi dan kebutuhan terapi) b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi tentang fungsi jantung/implikasi penyakit jantung dan perubahan status kesehatan yang akan datang.

 

IV.      INTERVENSI KEPERAWATAN

1.     Nyeri akut b/d iskemia miokard akibat sumbatan arteri koroner.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Pantau nyeri (karakteristik, lokasi, intensitas, durasi), catat setiap respon verbal/non verbal, perubahan hemo-dinamik

2. Berikan lingkungan yang tenang dan tunjukkan perhatian yang tulus kepada klien.

3. Bantu melakukan teknik relaksasi (napas dalam/perlahan, distraksi, visualisasi, bimbingan imajinasi)

4. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi:

- Antiangina seperti nitogliserin (Nitro-Bid, Nitrostat, Nitro-Dur)

- Beta-Bloker seperti atenolol (Tenormin), pindolol (Visken), propanolol (Inderal)

- Analgetik seperti morfin, meperidin (Demerol)

- Penyekat saluran kalsium seperti verapamil (Calan), diltiazem (Prokardia).

Nyeri adalah pengalaman subyektif yang tampil dalam variasi respon verbal non verbal yang juga bersifat individual sehingga perlu digambarkan secara rinci untuk menetukan intervensi yang tepat.

Menurunkan rangsang eksternal yang dapat memperburuk keadaan nyeri yang terjadi.

Membantu menurunkan persepsi-respon nyeri dengan memanipulasi adaptasi fisiologis tubuh terhadap nyeri.

Nitrat mengontrol nyeri melalui efek vasodilatasi koroner yang meningkatkan sirkulasi koroner dan perfusi miokard.

Agen yang dapat mengontrol nyeri melalui efek hambatan rangsang simpatis.(Kontra-indikasi: kontraksi miokard yang buruk)

Morfin atau narkotik lain dapat dipakai untuk menurunkan nyeri hebat pada fase akut atau nyeri berulang yang tak dapat dihilangkan dengan nitrogliserin.

Bekerja melalui efek vasodilatasi yang dapat meningkatkan sirkulasi koroner dan kolateral, menurunkan preload dan kebutuhan oksigen miokard. Beberapa di antaranya bekerja sebagai antiaritmia.

 

2.    Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai oksigen miokard dengan kebutuhan tubuh.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
Pantau HR, irama, dan perubahan TD sebelum, selama dan sesudah aktivitas sesuai indikasi.

Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas

Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdominal.

Batasi pengunjung sesuai dengan keadaan klinis klien.

Bantu aktivitas sesuai dengan keadaan klien dan jelaskan pola peningkatan aktivitas bertahap.

Kolaborasi pelaksanaan program rehabilitasi pasca serangan IMA.

Menentukan respon klien terhadap aktivitas.

Menurunkan kerja miokard/konsumsi oksigen, menurunkan risiko komplikasi.

Manuver Valsava seperti menahan napas, menunduk, batuk keras dan mengedan dapat mengakibatkan bradikardia, penurunan curah jantung yang kemudian disusul dengan takikardia dan peningkatan tekanan darah.

Keterlibatan dalam pembicaraan panjang dapat melelahkan klien tetapi kunjungan orang penting dalam suasana tenang bersifat terapeutik.

Mencegah aktivitas berlebihan; sesuai dengan kemampuan kerja jantung.

Menggalang kerjasama tim kesehatan dalam proses penyembuhan klien.

 

3. Kecemasan (uraikan tingkatannya) b/d ancaman/perubahan kesehatan-status sosiol-ekonomi; ancaman kematian.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Pantau respon verbal dan non verbal yang menunjukkan kecemasan klien.

2. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan marah, cemas/takut terhadap situasi krisis yang dialaminya.

3. Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.

4. Kolaborasi pemberian agen terapeutik anti cemas/sedativa sesuai indikasi (Diazepam/Valium, Flurazepam/Dal-mane, Lorazepam/Ativan).

Klien mungkin tidak menunjukkan keluhan secara langsung tetapi kecemasan dapat dinilai dari perilaku verbal dan non verbal yang dapat menunjukkan adanya kegelisahan, kemarahan, penolakan dan sebagainya.

Respon klien terhadap situasi IMA bervariasi, dapat berupa cemas/takut terhadap ancaman kematian, cemas terhadap ancaman kehilangan pekerjaan, perubahan peran sosial dan sebagainya.

Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.

Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.

4. (Risiko tinggi) Penurunan curah jantung b/d perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik jantung; penurunan preload/peningkatan tahanan vaskuler sistemik; infark/diskinetik miokard, kerusakan struktuaral seperti aneurisma ventrikel dan kerusakan septum.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Pantau TD, HR dan DN, periksa dalam keadaan baring, duduk dan berdiri (bila memungkinkan)

2. Auskultasi adanya S3, S4 dan adanya murmur.

3. Auskultasi bunyi napas.

4. Berikan makanan dalam porsi kecil dan mudah dikunyah.

5. Kolaborasi pemberian oksigen sesuai kebutuhan klien

6. Pertahankan patensi IV-lines/heparin-lok sesuai indikasi.

7. Bantu pemasangan/pertahankan paten-si pacu jantung bila digunakan.

Hipotensi dapat terjadi sebagai akibat dari disfungsi ventrikel, hipoperfusi miokard dan rangsang vagal. Sebaliknya, hipertensi juga banyak terjadi yang mungkin berhubungan dengan nyeri, cemas, peningkatan katekolamin dan atau masalah vaskuler sebelumnya. Hipotensi ortostatik berhubungan dengan komplikasi GJK. Penurunanan curah jantung ditunjukkan oleh denyut nadi yang lemah dan HR yang meningkat.

S3 dihubungkan dengan GJK, regurgitasi mitral, peningkatan kerja ventrikel kiri yang disertai infark yang berat. S4 mungkin berhubungan dengan iskemia miokardia, kekakuan ventrikel dan hipertensi. Murmur menunjukkan gangguan aliran darah normal dalam jantung seperti pada kelainan katup, kerusakan septum atau vibrasi otot papilar.

Krekels menunjukkan kongesti paru yang mungkin terjadi karena penurunan fungsi miokard.

Makan dalam volume yang besar dapat meningkatkan kerja miokard dan memicu rangsang vagal yang mengakibatkan terjadinya bradikardia.

Meningkatkan suplai oksigen untuk kebutuhan miokard dan menurunkan iskemia.

Jalur IV yang paten penting untuk pemberian obat darurat bila terjadi disritmia atau nyeri dada berulang.

Pacu jantung mungkin merupakan tindakan dukungan sementara selama fase akut atau mungkin diperlukan secara permanen pada infark luas/kerusakan sistem konduksi.

 

5. (Risiko tinggi) Perubahan perfusi jaringan b/d penurunan/sumbatan aliran darah koroner.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Pantau perubahan kesadaran/keadaan mental yang tiba-tiba seperti bingung, letargi, gelisah, syok.

2. Pantau tanda-tanda sianosis, kulit dingin/lembab dan catat kekuatan nadi perifer.

3. Pantau fungsi pernapasan (frekuensi, kedalaman, kerja otot aksesori, bunyi napas)

4. Pantau fungsi gastrointestinal (anorksia, penurunan bising usus, mual-muntah, distensi abdomen dan konstipasi)

5. Pantau asupan cairan dan keluaran urine, catat berat jenis.

6. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (gas darah, BUN, kretinin, elektrolit)

7. Kolaborasi pemberian agen terapeutik yang diperlukan:

- Hepari / Natrium Warfarin (Couma-din)

- Simetidin (Tagamet), Ranitidin (Zantac), Antasida.

- Trombolitik (t-PA, Streptokinase)

Perfusi serebral sangat dipengaruhi oleh curah jantung di samping kadar elektrolit dan variasi asam basa, hipoksia atau emboli sistemik.

Penurunan curah jantung menyebabkan vasokonstriksi sistemik yang dibuktikan oleh penurunan perfusi perifer (kulit) dan penurunan denyut nadi.

Kegagalan pompa jantung dapat menimbulkan distres pernapasan. Di samping itu dispnea tiba-tiba atau berlanjut menunjukkan komplokasi tromboemboli paru.

Penurunan sirkulasi ke mesentrium dapat menimbulkan disfungsi gastrointestinal

Asupan cairan yang tidak adekuat dapat menurunkan volume sirkulasi yang berdampak negatif terhadap perfusi dan fungsi ginjal dan organ lainnya. BJ urine merupakan indikator status hidrsi dan fungsi ginjal.

Penting sebagai indikator perfusi/fungsi organ.

Heparin dosis rendah mungkin diberikan mungkin diberikan secara profilaksis pada klien yang berisiko tinggi seperti fibrilasi atrial, kegemukan, anerisma ventrikel atau riwayat tromboplebitis. Coumadin merupakan antikoagulan jangka panjang.

Menurunkan/menetralkan asam lambung, mencegah ketidaknyamanan akibat iritasi gaster khususnya karena adanya penurunan sirkulasi mukosa.

Pada infark luas atau IM baru, trombolitik merupakan pilihan utama (dalam 6 jam pertama serangan IMA) untuk memecahkan bekuan dan memperbaiki perfusi miokard.

 

6. (Risiko tinggi) Kelebihan volume cairan b/d penurunan perfusi ginjal; peningkatan natrium/retensi air; peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Auskultasi bunyi napas terhadap adanya krekels.

2. Pantau adanya DVJ dan edema anasarka

3. Hitung keseimbangan cairan dan timbang berat badan setiap hari bila tidak kontraindikasi.

4. Pertahankan asupan cairan total 2000 ml/24 jam dalam batas toleransi kardiovaskuler.

5. Kolaborasi pemberian diet rendah natrium.

6. Kolaborasi pemberian diuretik sesuia indikasi (Furosemid/Lasix, Hidralazin/ Apresoline, Spironlakton/ Hidronolak-ton/Aldactone)

7. Pantau kadar kalium sesuai indikasi.

Indikasi terjadinya edema paru sekunder akibat dekompensasi jantung.

Dicurigai adanya GJK atau kelebihan volume cairan (overhidrasi)

Penurunan curah jantung mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi natrium/air dan penurunan haluaran urine. Keseimbangan cairan positif yang ditunjang gejala lain (peningkatan BB yang tiba-tiba) menunjukkan kelebihan volume cairan/gagal jantung.

Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa tetapi tetap disesuaikan dengan adanya dekompensasi jantung.

Natrium mengakibatkan retensi cairan sehingga harus dibatasi.

Diuretik mungkin diperlukan untuk mengoreksi kelebihan volume cairan.

Hipokalemia dapat terjadi pada terapi diuretik yang juga meningkatkan pengeluaran kalium.

 

7. Kurang pengetahuan (tentang kondisi dan kebutuhan terapi) b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi tentang fungsi jantung/implikasi penyakit jantung dan perubahan status kesehatan yang akan datang.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Kaji tingkat pengetahuan klien/orang terdekat dan kemampuan/kesiapan belajar klien.

2. Berikan informasi dalam berbagai variasi proses pembelajaran. (Tanya jawab, leaflet instruksi ringkas, aktivitas kelompok)

3. Berikan penekanan penjelasan tentang faktor risiko, pembatasan diet/aktivitas, obat dan gejala yang memerlukan perhatian cepat/darurat.

4. Peringatkan untuk menghindari aktivitas isometrik, manuver Valsava dan aktivitas yang memerlukan tangan diposisikan di atas kepala.

5. Jelaskan program peningkatan aktivitas bertahap (Contoh: duduk, berdiri, jalan, kerja ringan, kerja sedang)

Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien.

Meningkatkan penyerapan materi pembelajaran.

Memberikan informasi terlalu luas tidak lebih bermanfaat daripada penjelasan ringkas dengan penekanan pada hal-hal penting yang signifikan bagi kesehatan klien.

Aktivitas ini sangat meningkatkan beban kerja miokard dan meningkatkan kebutuhan oksigen serta dapat merugikan kontraktilitas yang dapat memicu serangan ulang.

Meningkatkan aktivitas secara bertahap meningkatkan kekuatan dan mencegah aktivitas yang berlebihan. Di samping itu juga dapat meningkatkan sirkulasi kolateral dan memungkinkan kembalinya pola hidup normal.

ASUHAN KEPERAWATAN

Pada Pasien Dengan Penyakit Infark Miokard

A. PENGKAJIAN DATA

I. Identitas Klien

Nama                                      : Tn. P

Umur                                       : 40 Tahun

Jenis Kelamin                                    : laki-laki

Pekerjaaan                             : PNS

Pendidikan                              : D3

Alamat                                    : Asrama Batu Merah

Agama                                                : Islam

Tgl Masuk                              : 18-03-2009 Jam: 18.30 WIT

Tgl Pengkajian                       : 19-03-2009 Jam: 09.00 WIT

Ruangan                                  : Melati

No. Register                          : 98796

Diagnosa Medis                     : infark miokard

Nama Penanggung Jawab    : Ny. Q

Hubungan dengan klien        : istri

Pekerjaan                               : PNS

II. Riwayat Keperawatan

1. Riwayat Kesehatan Sekarang

a. Keluhan Utama                         : nyeri dada seperti ditusuk-tusuk

b. Keluhan yang menyertai         : mual, muntah, sesak nafas, pusing,

keringat dingin, berdebar-debar/sinkope

c. Catatan Kronologis

Pada tanggal 18-3-2009 jam 13.00 WIT, pada saat pasien istirahat siang bersama isteri, pasien merasa nyeri dada seperti di tusuk-tusuk, namun isteri pasien menganggap itu hal yang biasa, dan hal itu berlangsung lama, pada pukul 13.45 pasien di bawa isterinya untuk berobat ke RSUD Haulussy Ambon, Sesampainya di UGD pasien di terima oleh dr. jaga dan perawat dengan keluhan nyeri dada disetai dengan mual, muntah, sesak nafas, pusing, keringat dingin, dan oleh dr jaga di beri tindakan :

-      IVFD Nacl 20 tts/mnt

-      Oksigen 2 ltr/mnt

-      Ranitidine 3×1 tab

3. Riwayat Kesehatan Masa lalu

- Pasien tidak pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya

- Pasien tidak pernah mengalami pembedahan terjadi bahaya tidak ada

- Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan maupun obat

4. Riwayat Kesehatan keluarga

-  keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit yang sama dengan penyakit     klien

5. Keadaan Psikososial Klien

- Pasien nampak cemas dan takut dengan keadaan penyakitnya.

- Pasien sering bertanya tentang keadaan penyakitnya

- Pasien nampak gelisah dengan penyakitnya.

- Harapan pasien agar cepat sembuh dari penyakitnya.

PENGKAJIAN OKSIGENASI

 

I.            Riwayat keperawatan

a.    Keluhan

-      Kelemahan                  : ya

-      Dispnea                       : ya

1.     Di pengaruhi aktivitas    : ya

2.    Berkurang bila kepala ditinggikan : tidak

3.    Mengganggu istirahat dan ketenagan : ya

-      Batuk                          : ya

-      Nyeri dada                 : ya

1.     Tipe                       : menetap

2.    Kualitas                : berat

3.    Frekuensi             : 24 x/mnt

4.    Lokasi                   : nyeri  tipikal pada dada anterior, substernal, prekordial

5.    Durasi                   : cepat

6.    Radiasi                  : tidak ada

b.    Lingkungan

-      Rumah

1.     Ventilasi               : baik

2.    Berdebu                : tidak berdebu

3.    Berasab                : tidak berasab

-      Tempat kerja

1.     Ventilasi               : baik

2.    Berdebu                : tidak berdebu

3.    Berasab                : tidak berasab

c.    Riwayat penyakit

-      Penyakit pernafasan yang pernah dialami : tidak pernah

-      Berapa lama                                                   : tidak ada

-      Pernah kontak dengan penderita TBC       : tidak pernah

d.    Factor resiko

-      Riwayat keluarga

1.     CA paru                            : tidak ada

2.    Penyakit kardiovaskuler : tidak ada

-      Keluarga yang menderita infeksi pernafasan : tidak ada

-      Factor lain

1.     Obesitas               : ya obesitas

2.    Stress                   : tidak

3.    Latihan berat      : tidak ada

4.    Rokok                    : ya merokok

e.    Pengobatan

-      Obat yang sedang/sering digunakan         : asam mefenamat

-      Pengetahuan dan kemampuan klien menggunakan obat : kurang

-      Pengetahuan klien tentang efek samping obat : kurang

II.          Pemeriksaan Fisik.

a.    Inspeksi

1.     Mata

-      Pupil                            : simetris

-      Konjungtiva

a.    Pucat                    : ya pucat

b.    Cianosis                : ya cianosis

2.    Mulut

-      Membrane mukosa    : pucat

-      Pernafasan bibir       : tidak ada

3.    Vena leher                 : tidak ada distensi vena jugularis

4.    Hidung (pernafasan cuping hidung)           : ya

5.    Dada

-      Retraksi                      : tidak ada

-      Simetris                     : ya

6.    Kulit

-      Cianosis perifer         : ya

-      Cianosis sentral         : tidak ada

-      Pucat                          : ya

-      Oedema                      : tidak ada

7.    Jari-jari dan kuku

-      Cianosis                      : ya

-      Pucat                          : ya

-      Clibbing                      : tidak bengkak

b.    Palpasi

1.     Frekuensi gerakan dada                               : 24 x/mnt

2.    Tactil fremitus                                             : simetris kiri dan kanan

3.    Massa abnormal di mamae dan aksila        : tidak ada

4.    Nadi perifer                                                  : 84x/mnt

5.    Suhu                                                               : 37 ºC

c.    Auskultasi

1.     Bunyi nafas                                                    : bersih/krekels

2.    Bunyi nafas tambahan                                 : wheezing

III.       Pemeriksaan diagnostic

a.    EKG

b.    Laboratorium

c.    Enzim/Isoenzim Jantung

d.    Radiologi

e.    Ekokardiografi

  1. Radioisotop

IV.         Klasifikasi data

DS       : Pasien mengatakan :

-      Nyeri dada seperti di tusuk-tusuk

-      Mual

-      Muntah

-      Sesak nafas

-      Pusing

-      Keringat dingin

-      Berdebar-debar/sinkope

DO      :

-      KU pasien lemah

-      Respirasi 24 x/mnt

-      Nadi 84 x/mnt

-      Terpasang oksigen 2 ltr/mnt

-      Kulit pucat

-      Cianosis

V.            Analisa data

No

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

1.

2.

3.

4.

DS: Pasien mengatakan

- nyeri dada

- mual

- muntah

- sesak nafas

- pusing

- keringat dingin

- berdebar-debar

DO:

- turgor kulit jelek

- mukosa bibir kering

- kulit kering

- konsistensi feses cair

- mata cekung

DS: Pasien mengatakan

- tidak nefsu makan

- badan terasa lemas

- merasa mual ketika mencium

Aroma makanan

- muntah apabila makan

DO:

- porsi makan tidak dihabiskan

(hanya 2 sendok)

- BB turun 2 kg (50 kg ke 48 kg)

- perkusi abdomen meteorismus

- Konjungtiva pucat

DS: Pasien mengatakan

- tidur malam 3-4 jam

- tidur siang 1 jam

- tidur tidak nyenyak

DO:

- terdaoat lingkaran hitam diskitar

mata

- konjungtiva pucat

- TD 100/80 mmhg

DS : Pasien mengatakan

-  Badan terasa lemas

DO :

- KU lemah

- Kekuatan otot lemah

- Tonus otot kurang

- Aktivitas dibantu

Intake dan out put cairan yang tidak adekuat

Intake nutrisi yang tidak adekuat

Diare

Kelemahan fisik

Ganguan keseimbangan cairan dan elektrolit

Resiko terjadi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Gangguan pola istirahat

Intoleran aktivitas

Perumusan Diagnosa Keperawatan

  1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d intake dan out put yang adekuat yang ditandai dengan :

DS : Pasien mengatakan

-          BAB 9x

-          Muntah apabila makan

-          Minum2-3 gelas/hari

DO :

-          Turgor kulit jelek

-          Mukosa bibir kering

-          Konsistensi feses cair

-          Mata cekung

-          Kulit kering

  1. Resiko terjadi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi yang tidak adekuat ditandai dengan :

DS : Pasien mengatakan

-          Tidak naafsu makan

-          Badan terasa lemas

-          Mersa mual ketika meluhat makanan

-          Muntah apabiala makan

DO :

-          Porsi makan tidak di habiskan (hanya 2 sendok)

-          BB turun 2 kg (50 kg ke 48 kg)

-          Perkusi abdomen meteorismus

-          Konjungticva pucat

-          Terpasang IVFD RL 20 tts/mnt

  1. Gangguan pola istirahat dan tidur b/d diare ditandai dengan :

DS : Pasien mengatakan

-          Tidur malam 3-4 jam

-          Tidur siang 1 jam

-          Tidur tidak nyenyak

-          Sering terbangun karena BAB

DO :

-          Terdapat lingkaran hitam disekitar mata

-          Konjungtiva pucat

-          TD 100/80 mmhg

  1. Intoleran aktivita b/d kelemahan fisik ditandai dengan :

DS : Pasien mengatakan

-          Badan terasa lemas

DO :

-          KU lemah

-          Kekuatan otot lemah

-          Tonus otot kurang

-          Aktivitas di bantu

Prioritas diagnose keperawatan

  1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d input dan output cairan yang tidak asekuat.
  2. Resiko terjadi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi yang tidak adekuat
  3. Gangguan pola istirahat dan tidur b/d diare
  4. Intoleran aktivita b/d kelemahan fisik

NCP

IMPLEMENTASI

EVALUASI

TGL 19-03-2009

PUKUL : 09.00 WIT

1.   Menganjurkan pesien untuk istirahat sebelum makan

Hasil : paien beristirahat dengan posisi fowler

Pukul : 12.00 WIT

2.  Member makan pasien

Hasil : pasien makan bubur dan sayur 4 sendok kemudian muntah

Pukul : 12.00 WIT

3.  Member HE tentang pola makan yaitu kalau tidak makan tubuh akan semakin lemah dan muntah waulupun masih muntah harus makan

Hasil : pasien meu mengerti dan meu melakukannya

4.  Menimbang BB

Hasil : 48 kg

5.  Melanjutkan terapy dari dokter

Pukul 14.00 WIT inj. Ranitidin 1 amp IV

Pukul 14.05 WIT inj. Primperan 1 amp IV

Tgl 20-03-2009

Pukul 06.00 WIT

S : Pasien mengatakan

- tidak nafsu makan

- badan masih lemas

O : KU lemas

Makan 4 sendok

A : gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum terpenuhi

P : intervensi 1,2,3,4,5 dilanjutkan

1.  Anjurkan pasien beristirahat sebelum makan selama 5 menit

2.  Beri makan pada pasien

3.  Berikan HE tentang pola makan yaitu kalau tidak tubuh makin lemas dan walaupun masih muntah tapi harus makan

4.  Timbang BB 48 kg

5.  Pemberian obat suntiksesuai jadwal suntik

-IVFD RL 20 tts/mnt

-inj. ranitidin 3×1 amp/8 jam IV

-inj. Primperan 3×1/8 jam IV

IMPLEMENTASI

EVALUASI

Tgl 19-03-2009

Pukul 10.00 WIT

1.   Mengobservasi tanda-tanda dehidrasi

Hasil : turgor kulit jelek

KU lemah

Mata cekung

Kulit kering

Pukul 10.33

2.  Mengobservasi intake dan output cairan

Hasil :

-    Jumlah cairan yang masuk (IVFD) RL 20 tts/mnt adalah 2 kolf atau 1000cc

-    Pasien minum 2-3 gelas

-    Air yang terkandung dalam makanan (bubur) hanya 4 sendok

Output

-    BAB 6x (konsistensinya cair)

-    BAK 6x

3.  Pukul 13.00 WIT

Mengukur TTV

-    TD : 100/80 mmhg

-    Nadi : 80 x/mnt

-    Suhu : 36.30 C

-    Pernafasan : 20 x/mnt

4.  Memberikan injeksi parenteral

Memberikan injeksi

13.45 injeksi amoxillin 1 gr IV

14.00 injeksi ranitidine 1 amp IV

14.05 injeksi primperan 1 amp IV

TGL 20-03-2009

PUKUL 10.00

S :Pasien mengatakan :

Masih rasa mual

BAB 6x

O :KU masih lemah

Mata masih cekung

Turgor masih jelek

A :gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit belum teratasi

P :Intervensi dilanjutkan 1,2,3,4,

1.  Observasi tanda –tanda dehidrasi

2.  Observasi intake dan output cairan

3.  Ukur TTV

4.  Kolaborasi :

-       IVFD RL 20 tts/mnt

-       Injeksi ceftriaxone 1 gr/12 jam IV

-       Injeksi primperan 3×1 amp/8 jam IV

-       Injeksi ranitidine 3×1 amp/8 jam IV

IMPLEMENTASI

EVALUASI

TGL 19-03-2009

Pukul : 21.15 WIT

1.   Mengkaji kuantitas tidur pasien

Hasil : tidur siang 1 jam

Tidur malam 3-4 jam

Masih sering terbangun

Pukul : 21.25 WIT

2.  Mengatur posisi pasien dengan posisi kepala sedikit ditinggikan dan diberi sanggahanpada ekstrimitas kanan pasien

Hasil : pasien mengatakan merasa nyaman dengan posisi ini

Pukul : 22.00 WIT

3.  Memberikan HE pasien tentang istirahat tidur dengan cara memberikan pemahaman tentang perlunya istirahat dan tidur karena istirahat dapat mengurangiperistaltik usus agar tidak BAB lagi

4.  Memberikan tindakan relaksasi masase ringan dan memberikan menyak kayu putih diseluruh badan

Hasil : pasien tampak lebuh rilaks

Tgl 20-03-2009

Pukul 06.00 WIT

S : Pasien mengatakan

- tidur malam 3-4 jam

- tidur siang 2 jam

- sering terbangun Karena BAB

- tidak lagi merasa pusing

- pasien masih muntah

O : KU lemas

Tidur sering terjaga

TD 110/80 mmhg

A : gangguan pola istirahat dan tidur sebagian teratasi

P : intervensi

1.kaji kuantitas tidur pasien

2.atur posisi pasien kepala sedikit   ditinggikan dan diberi sanggahan nbantal pada ekstrimitas kana pasien

3.berikan HE pada pasien istirahat

IMPLEMENTASI

EVALUASI

TGL 19-03-2009

PUKUL : 13.00 WIT

1.   Menganjurkan pesien untuk istirahat yang cukup dan meminta keluarga pasien/pengunjung untuk meninggalkan ruangan

Hasil : paien dapat beristirahat dengan tenang

2.  Mengkaji pasien dalam melakukan aktivitasnya

Hasil : pasien lemah tidak mampu melakukan aktivitasnya sendiri setiap saat 13.20

3.  Membantu pasien pada saat 12.00 makan

Hasil : pasien merasa terbantu dan dapt melakukan aktivitasnya.

Tgl 20-03-2009

Pukul 13.00 WIT

S : Pasien mengatakan

- badan masih terasa lemas

O : KU lemas

Aktivitas pasien masih dibantu oleh keluarga dan perawat

A : intoleran aktivitas belum selesai

P : intervensi 1,2,3 dilanjutkan

1.  Dorong tirah baring dan berikan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung

2. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas

3. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta

Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, BP FKUI, Jakarta.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 15 Mei 2011 in Uncategorized

 

Tag: ,

Bladder trainning

 PEMASANGAN DAN PERAWATAN KATETER

  1. 1.      PENGERTIAN

Kateter adalah pipa untuk memasukan atau mengeluarkan cairan.kateter terutama terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, wofen, silk, dan silikon.

Kandung kemih adalah sebuah kantong yang berfungsi untuk menampung air seni yang berubah-ubah jumlahnya yang dialirkan oleh sepasang ureter dari sepasang ginjal.

Kateterisasi kandung kemih adalah dimasukannya kateter melalui uretra ke dalam kandung kemih untuk mengeluarkan air seni atau urine.

Kateterisasi urine adalah memasukan selang karet atau plastic melalui uretra ke dalam kandung kemih.

Perawatan kateter adalah suatu tindakan keperawatan dalam memelihara kateter dengan antiseptik untuk membersihkan ujung uretra dan selang kateter bagian luar serta mempertahankan kepatenan posisi kateter.

  1. 2.      TUJUAN
  • Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih
  • Untuk pengumpulan spesimen urine
  • Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung kemih
  • Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan
  • Untuk menjaga kebersihan saluran kencing
  • Untuk mempertahankan kepatenan (fiksasi) kateter
  • Untuk mencegah terjadinya infeksi
  • Untuk mengendalikan infeksi
  1. 3.      INDIKASI
  2. Diagnostik (secepatnya di lepas)
    1. Mengambil sampel urine untuk kultur urine
    2. Mengukur residu urine
    3. Memasukan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologi
    4. Urodinamik
    5. Monitor produksi urine atau balance cairan
    6. Terapi (di lepas setelah tujuan di capai)
      1. Retensi urine
      2. Self intermitten kateterisasi (CIC)
      3. Memasukan obat-obatan
      4. Viversi urine
      5. Sebagai splin
      6. 4.      KOMPLIKASI

Komplikasi pemasangan kateter antara lain :

  • Bacterial shock
  • Striktur uretra
  • Rupture uretra
  • Perforasi buli-buli
  • Perdarahan
  • Balon pecah atau tidak bias dikempeskan

Komplikasi operasi :

  • Pneumo atau hematothoraks
  • Thrombosis vena
  • Cedera arteri atau saraf
  • Fistula arteriovena
  • Chylothoraks
  • Infeksi
  • Emboli udara morbiditas (morbiditas 0-15%)
  1. 5.      MACAM-MACAM KATETER

Macam-macam kateter dapat di bedakan berdasarkan :

  1. Bentuk
  2. Straight : lurus tanpa ada cabang

Contoh :

  • Robinson kateter
  • Nelaton kateter
  1. Coude catheter : kateter dengan ujung lengkung dan ramping

Contoh :

  • Kateter Tiemann
  1. Self retaining kateter : dipakai menetap

Contoh:

  • Molecot kateter
  • Foleey kateter
  1. Ukuran
  • Skala Cheriere”s (Franch)
  • Ich atau Fr 0,33 mm
  • Atau 1 mm = 3 Fr

Contoh :

Kateter 18 Fr artinya diameter luarnya 6 mm

  1. Bahan
  • Stainless
  • Lateks (karet)
  • Siikon
  • Dilapisi silikon
  1. Jumlah percabangan
  • Cabang 2
  • Cabang 3
  1. 6.      PRINSIP-PRINSIP PEMASANGAN KATETER
  2. Gentle
  3. Sterilitas
  4. Adekuat lubrication
  5. Gunakan kateter ukuran kecil
  1. 7.      HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PEMASANGAN KATETER

Meliputi :

  1. Harus menggunakan kateter yang sudah sterilisasi
  2. Lebik baik gunakan alat sekali pakai. Bila memang diperlukan penggunaan ulang kateter, klien harus teknik pensterilan (kateter karet yang dapat di rebus selama 20 menit dan keringkan dalam kain bersih)
  3. Jangan mendorong paksa kateter jika terjadi tahanan. Pada pria lansia, hipertrof prostat dapat menyumbat uretra secara parsial dan menghambat kemudahan masuknya kateter. Bila terjadi tahanan, beritahu dokter.
  4. Plester adesik jangan pernah digunakan untuk memplester kondom kateter. Ini dapat menyebabkan konstriksi dan reduksi aliran darah ke penis. Plester Velcro/elastic dapat mengembang dengan perubahan ukuranpenis dan tidak mengurangi aliran darah.
  5. Lepaskan kateter selama 30 menit setiap 24 jam untuk perawatan kulit perineal. Lihat tiap 4 jam untuk menentukan bahwa sirkulasi pada penis adekuat.
  6. Kliien wanita memerlukan cermin untuk melihat areal perinealnya.
  7. Bila kateter sudah pasti masuk ke dalam kandung kemih dan tidak ada urine yang keluar, tak adanya urine yang keluar harus segera dilaporkan pada dokter.
  8. Wanita yang baru saja melahirkan bayi / yang baru saja mengalami pembedahan ginekologik dan klien-klien  yang baru saja mengalami bedah kandung kemih, beresiko terhadap distensi kandung kemih
  9. Harus diperhatikan penentuan posisi pada kemampuan
  1. 8.      PERAWATAN KATETER MENETAP

Kateter merupakan benda asing pada uretra dan buli-buli, bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan kompllikasi serius. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk merawat kateter menetap :

  1. Banyak minum, urine cukup ehingga tidak terjadi kotoran yang mengendap dalam kateter.
  2. Mengosongkan urine bag secara teratur
  3. Tidak mengangkat urine bag lebih tinggi dari tubuh penderita agar urine tidak mengalir kembali ke buli-buli
  4. Membersihkan darah, nanah, secret periuretra dan mengolesi kateter dengan antiseptik secara berkala.
  5. Ganti kateter paling tidak 2 minggu sekali.
  1. 9.      PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN

Meja/trolly yang berisi :

  1. Sarung tangan steril
  2. Satu duk lubang
  3. Kapas sublimate
  4. Pinset
  5. Kateter sementara dan menetap
  6. Kom
  7. Jelly
  8. Larutan pembersih antiseptik
  9. Perlak dan alsnya
  10. Bengkok
  11. Baskom yang berisi air hangat
  12. Waslap
  13. Spuit
  14. Urine bag
  15. Kasa
  1. 10.  PERSIAPAN PERAWAT
    1. Pengetahuan dasar tentang anatomi dan fisiologi dan sterilitas mutlak dibutuhkan dalam rangka tindakan preventif memutus rantai penyebaran infeksi nosokomial.
    2. Cukup keterampilan dan berpengalaman untuk melakukan tindakan tersebut
    3. Usahakan jangan sampai menyinggung perasaan penderita, melakukan tindakan harus sopan, perlahan-lahan dan berhati-hati.
    4. Diharapkan penderita telah menerima penjelasan yang cukup tentang prosedur dan tujuan tindakan
  1. 11.  PERSIAPAN PASIEN
    1. Penderita telah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang tindakan yang akan dilakukan penderita atau keluarga diharuskan menandatangani informed consent
  1. 12.  PROSEDUR PELAKSANAAN KATETERISASI PADA WANITA
    1. Ikuti protocol standar
    2. Atur posisi pasien senyaman mungkin
    3. Tutup ruangan atau tirai atau sampiran
    4. Cuci tangan
    5. Berdiri di bagian kanan tempat tidur jika anda menggunakan tangan kiri dan berdiri di sebelah kiri pasien kemudian bereskan tempat tidur pasien
    6. Bantu klien pada posisi dorsal recumbent difleksikan pada lutut dan pangkal paha
    7. Pasang perlak dan alasnya
    8. Gunakan sarung tangan sekali pakai dan cuci area perineum dengan sabun dan air sesuai kebutuhan kemudian keringkan
    9. Buka sarung tangan dan cuci tangan
    10. Jika memasang kateter menetap, buka urine bag(buka kotak kateerisasi menurut petunjuk, jaga perlengkapan steril)
    11. Tuangkan larutan antiseptik steril ke dalam kompartemen yang  bola kapas steril
    12. Buka paket yang bersih minyak pelican (jeli)
    13. Pindahkan wadah specimen (penutupnya harus berada di atas) dan sisi spuit yang berisi cairan  dari baki pengumpul dan susun perallatan tersebut disamping tempat steril jika diperuka
    14. Pakai sarung tangan steril
    15. Pasang doek steril
    16. Bersihkan daerah perineal dari klitoris sampai ke anus
    17. Berikan pelumas pada ujung kateter 2,5-5 cm
    18. Dengan tangan dominant anda secara hati-hati regangkan labia untuk pemajanan sempurna meatus uretra. Pertahankan tangan nondominant anda pada posisi ini sepanjang prosedur
    19. Dengan tangan dominan anda, ambil kapas dengan p;inset dan bersihkan area perineal, usap dari depan ke belakang, darin klitoris kea rah anus. Gunakan bola kapas bersih baru untuk setiap usapan, sepanjang dekat lipatan labia, dan pada meatus.
    20. Saat memegang dengan ibu jari dan kelingking dari tangan nondominant anda, ambil ujung kateter dan letakkan diantara jari pertama dan kedua dari tangan tersebut
    21. Dengan tangan dominant anda yang bebas, hubungkan spuit ke port injeksi pada ujung kateter
    22. Perlahan injeksikan sejumlah total larutan. Jika pasien mengeluh nyeri tiba-tiba, aspirasi kembali dan dorong lagi kateter lebih jauh
    23. Setelah mengembangkan balon dengan baik, gunakan tangan nondominant anda untuk menarik perlahan kateter dan merasakan tahanan
    24. Hubungkan ujung kateter ke selang penampang dari system drainase
    25. Fiksasi kateter ke sebelah dalam paha pasien dengan plester nonalergik.
    26. Biarkan mengendur sehingga gerakan paha tidak menimbulkan tegangan pada kateter
    27. Lepaskan sarung tangan dan rapikan peralatan, doek dan urine ke dalam wadah yang telah disediakan.
    28. Bantu pasien ke posisi nyaman. Cuci dan keringkan area perineal sesuai kebutuhan
    29. Ajarkan pasien tentang cara berbaring di tempat tidur dengan kateter: miring menghadap system drainase kateter dan selang pada tempat tidur tidak terlipat; telentang dengan kateter selang di plester di atas paha; miring menjauh dari system kateter dan selang berada diantara kaki.
    30. Ingatkan pasien agar tidak menarik kateter
    31. Cuci tangan
    32. Dokumentasikan tindakan yang dilakukan
  1. 13.  PROSEDUR PELAKSANAAN KATETERISASI PADA PRIA
    1. Ikuti protocol standar
    2. Atur posisi pasien senyaman mungkin
    3. Tutup ruangan atau tirai atau sampiran
    4. Cuci tangan
    5. Berdiri di bagian kanan tempat tidur jika anda menggunakan tangan kiri dan berdiri di sebelah kiri pasien kemudian bereskan tempat tidur pasien
    6. Bantu klien pada posisi terlentang
    7. Pasang perlak dan alasnya
    8. Gunakan sarung tangan sekali pakai dan cuci area perineum dengan sabun dan air sesuai kebutuhan kemudian keringkan
    9. Buka sarung tangan dan cuci tangan
    10. Jika memasang kateter menetap, buka urine bag(buka kotak kateerisasi menurut petunjuk, jaga perlengkapan steril)
    11. Tuangkan larutan antiseptik steril ke dalam kompartemen yang  bola kapas steril
    12. Buka paket yang bersih minyak pelican (jeli)
    13. Pindahkan wadah specimen (penutupnya harus berada di atas) dan sisi spuit yang berisi cairan  dari baki pengumpul dan susun perallatan tersebut disamping tempat steril jika diperuka
    14. Pakai sarung tangan steril
    15. Pasang doek steril
    16. Letakan baki steril dan isinya di atas doek di sisi paha pasien atau pada atas paha
    17. Ambil bola kapas atau kasa dengan larutan antiseptik.
    18. Buka wadah specimen steril dengan mempertahankan bagian atasnya tetap sterik
    19. Berikan pelumas pada ujung kateter 12,5-17,5 cm
    20. Dengan tangan nondominant anda secara hati-hati regangkan regangkan prepusium pria yang tidak di sirkumsisi. Pegang penis pada batang tepat di bawah glens. Regangkkan meatus uretra diantara ibu jari dan jari telunjuk. Pertahankan tangan dominant anda pada posisi ini sepanjang prosedur
    21. Dengan tangan dominan anda, ambil bola kapas dengan pinset dan bersihkan area penis dengan gerakan melingkar dari meatus bawah ke dasar glens. Ulangi sebanyak 2 kali dengan menggunakan bola kapas yang bersih
    22. Ambil dengan tangan dominant yang telah menggunakan sarung tangan ± 7,5-10 cm kateter dari ujungnya. Pegang ujung kateter, gulung di telapak dominant anda, lalu pegang kateter dengan pinset
    23. Angkat penis pada posisi tegak terhadap tubuh pasien dan terapkan traksi ringan.
    24. Minta pasien untuk menghindari mengejan dengan cara menarik nafas dalam dan dengan perlahan, masukan kateter melalui meatus.
    25. Masukan kateter 17,5-23 cm atau sampai urine mangalir keluar dari ujung kateter, jika terasa tertahan tarik kateter jangan paksakan mendorongnya ke dalam uretra. Jika urine tampak keluar, dorong kateter.
    26. Turunnkan penis dan pegang kateter dengan kuat pada tangan nondominant.
    27. Hubungkan ujung kateter ke selang penampung system drainase (urine bag).
    28. Fiksasi kateter pada bagian atas paha pasien atau abdomen bawah (dengan posisi penis mengarah kearah pasien) menggunakan plester
    29. Pastikan tidak terdapat obstruksi atau lipatan pada selang. Tempatkan kelebihan gulungan selang pada tempat tidur dan kencangkan pada dasar linen tempat tidur dengan klit pada set drainase  / urine bag.
    30. Lepaskan sarung tangan, lalu rapikan semua peralatan
    31. Bantu pasien ke posisi nyaman, cuci tangan dan keringkan area perineal sesuai kebutuhan.
    32. Ajarkan pasien tentang posisi yang nyaman dan tekankan pada pasien untuk tidak menarik kateter.
    33. Cuci tangan
    34. Dokumentasikan tindakan yang dilakukan
  1. 14.  SIKAP
    1. Teliti
    2. Ramah
    3. Sopan
    4. Komunikatif

 BLADDER TRAINNING

  1. 1.      PENGERTIAN

Bladder training adalah salah upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kencing yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke  fungsi optimal neurogenik.

Bladder training merupakan salah satu terapi yang efektif diantara terapinonfarmakologis.

  1. 2.      TUJUAN

Tujuan dari bladder training adalah untuk melatih kandung kemih dan mengembalikan pola normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran air kemih.

Terapi ini bertujuan memperpanjang interval berkemih yang normal dengan berbagai teknik distraksi atau tekhnik relaksasi sehingga frekuensi berkemih dapat berkurang, hanya 6-7 kali per hari atau 3-4 jam sekali. Melalui latihan, penderita diharapkan dapat menahan sensasi berkemih.

Tujuan yang dapat di capai dalam sumber yang lain adalah :

  • Klien dapat mengontrol berkemih
  • Klien dapat mengontrol buang air besar
  • Menghindari kelembaban dan iritasi pada kulit lansia
  • Menghindari isolasi social bagi klien
  1. 3.      INDIKASI
  • Orang yang mengalami masalah dalam hal perkemihan
  • Klien dengan kesulitan memulai atau menghentikan aliran urine
  • Orang dengan pemasangan kateter yang relative lama
  • Klien dengan inkontinentia urine
  1. 4.      PROGRAM LATIHAN BLADDER TRAINING

ü  Penyuluhan

Memberikan pengertian kepada klien tentang tata cara latihan bladder training yang baik, manfaat yang akan di capai dan kerugian jika tidak melaksanakan bladder training dengan baik.

ü  Tahapan latihan mengontrol berkemih

Beberapa tindakan yang dapat membantu klien untuk mengembalikan control kemih yaitu :

Tindakan

Persiapan alat :

  • Jam
  • Air minum dalam tempatnya
  • Obat diuretic jika diperlukan

Persiapan pasien

  • Jelaskan maksud dan tujuan dari tindakan tersebut
  • Jelaskan prosedur tindakan yang harus dilakukan klien

Langkah-langkah :

  1. Beritahu klien untuk memulai jadwal berkemih pada bangun tidur, setiap 2-3 jam sepanjang siang dan sore hari, sebelum tidur dan 4 jam sekali pada malam hari.
  2. Beritahu klien minum yang banyak sekitar 30 menit sebelum waktu jadwal untuk berkemih.
  3. Beritahu klien untuk menahan berkemih dan memberitahu perawat jika rangsangan berkemihnya tidak dapat di tahan.
  4. Klien di suruh menunggu atau menahan berkemih dalam rentang waktu yang telah ditentukan 2-3 jam sekali
  5. 30 menit kemudian, tepat pada jadwal berkemih yang telah ditentukan, mintalah klien untuk memulai berkemih dengan teknik latihan dasar panggul.
  6. Latihan 1
  • Instruksikan klien untuk berkonsentrasi pada otot panggul
  • Minta klien berupaya menghentikan aliran urine selama berkemih kemudian memulainya kembali.
  • Praktikan setiap kali berkemih
  1. Latihan 2
  • Minta kllien untuk mengembil posisi duduk atau berdiri
  • Instruksikan klien untuk mengencangkan otot-otot di sekitar anus
  1. Latihan 3
  • Minta klien mengencangkan otot bagian posterior dan kemudian kontraksikan otot anterior secara perlahan sampai hitungan ke empat
  • Kemudian minta klien untuk merelaksasikan otot secara keseluruhan
  • Ulangi latihan 4 jam sekali, saat bangun tidur sealam 3 bulan
  1. Latihan 4
  • Apabila memungkinkan, anjurkan Sit-Up yang dimodifikasi (lutut di tekuk) kepada klien
  1. Evaluasi
  • Klien dapat menahan berkemih dalam 6-7 kali perhari atau 3-4 jam sekali
  1. Bila tindakan point 5 seperti tersebut dirasakan belim optimal atau terdapat gangguan :
    1. Maka metode diatas dapat di tunjang dengan metode rangsangan dari eksternal misalnya dengan suara aliran air dan menepuk paha bagian dalam
    2. Menggunakan metode untuk relaksasi guna membantu pengosongan kandung kemih secara total, misalnya dengan membaca dan menarik napas dalam.
    3. Menghindari minuman yang mengandung kafein.
    4. Minum obat diuretic yang telah diprogramkan atau cairan untuk meningkatkan diuretic.
  2. Sikap
  • Jaga privasi klien
  • Lakukan prosedur dengan teliti
  1. 5.      PENATALAKSANAAN
  • Pengaturan diet dan menghidari makanan / minuman yang mempengaruhi pola berkemih (seperti kafein, alkohol)
  • Program latihan berkemih yaitu latihan penguatan otot dasar panggul (pelvic floor exercise) latihan fungsi kandung kemih (bladder training) dan program kateterisasi intermitten.
  • Latihan otot dasar panggul menggunakan bio feed back
  • Latihan otot dasar panggul menggunakan vaginal weight cone therapy. Selain behavioral therapies, dikenal pula intervensi lain, yaitu perawatan dan pemanfaatan berbagai alat bantu terapi.
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 15 Mei 2011 in Uncategorized

 

Tag:

askep keluarga pada pasien dengan konjungtivit

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Keluarga

  1. 1.      Pengertian

Asuhan keperawatan keluarga adalah metode ilmiah yang digunakan secara sistimatis untuk mengkaji dan menentukan masalah kesehatan dan keperawatan keluarga, merencanakan asuhan keperawatan, dan melaksanakan intervensi keperawatan terhadap keluarga sesuai dengan rencana yang telah disusun dan mengevaluasi mutu hasil asuhan keperawatan yang dilakukan terhadap keluarga (Effendy 1998).

Proses  keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematik, menentukan cara pemecahannya, melaksanakan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan (Effendy, 1995).

  1. 2.      Tahap-tahap dalam proses keperawatan keluarga

Tahap-tahap dalam proses keperawatan bergantung satu sama Yang lainnya dan bersifat dinamis, dan disusun secara sistematis untuk mengambarkan dari tahap yang satu ke tahap yang lain, dengan tahap-tahap sebagai berikut:

  1. a.      Pengkajian

Pengkajian adalah merupakan tahapan terpenting dalam proses keperawatan, mengingat pengkajian sebagai awal bagi keluarga untuk mengidentifikasi data-data yang ada pada keluarga (Setiawati, 2008)

Yang termasuk dalam tahap ini adalah:

1)      Pengumpulan data

Proses pengumpulan data diperoleh melalui, proses wawancara/anamnese, pengamatan/observasi, pemeriksaan fisik dengan cara: inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi (Effendy, 1998).

2)      Analisa data

Analisa data merupakan kegiatan pemilahan data dalam rangka proses klarifikasi dan validasi informasi untuk mendukung penegakkan diagnosa keperawatan keluarga yang akurat.

3)      Perumusan masalah

Rumusan masalah kesehatan keluarga dapat menggambarkan keadaan kesehatan keluarga dan status keluarga, karena merupakan hasil dari pemikiran dan pertimbangan yang akurat tentang situasi kesehatan lingkungan, norma, nilai, kultur, yang dianut oleh keluarga tersebut yang diambil berdasarkan hasil analisa konsep, prinsip, teori dan standar yang dapat dijadikan acuan dalam menganalisa sebelum mengambil keputusan tentang masalah kesehatan keluarga, yang mengacu kepada tipologi masalah kesehatan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas dalam bidang kesehatan (Effendy, 1995).

  1. b.      Diagnosa keperawatan keluarga, dan prioritas diagnosa keperawatan keluarga.

1)      Diagnosa keperawatan keluarga

Diagnosa keperawatan keluarga merupakan kumpulan pernyataan dari uraian hasil wawancara, pengamatan langsung dan pengukuran menggunakan status kesehataan mulai dari potensial, resiko tinggi, sampai masalah aktual. Masalah keperawatan aktual memberikan gambaran tanda dan gejala yang jelas yang mendukung bahwa masalah benar-benar terjadi, masalah resiko ditunjukkan dengan data yang mengarah pada timbulnya masalah kesehatan bila tidak segera ditangani, dan masalah potensial/sejahtera adalah merupakan status kesehatan berada pada kondisi sehat dan ingin meningkatkan lebih optimal (Setiawati, 2008).

Diagnosa keperawatan ditegakkan menurut Setiawati (2008) adalah:

Untuk penyebab atau etiologi dalam perumusan diagnosa keperawatan model single diangkat dari 5 tugas keluarga antara lain :

  1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
  2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan
  3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga
  4. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan
  5. Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada
  6. Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah lingkungan
  7. Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
  8. Resiko terhadap cedera/ketidakmampuan keluaga merawat anggota keluarga
  9. Resiko terjadi infeksi
    1. Diagnosa keperawatan keluarga dengan masalah struktur komunikasi
    2. Komunikasi keluarga disfungsional
  1. Diagnosa keperawatan keluarga dengan masalah struktur peran
  2. Berduka dan antisipasi
  3. Berduka disfungsional
  4. Isolasi sosial
  5. Perubahan dalam proses keluarga (dampak orang sakit terhadap keluarga)
  6. Potensial peningkatan menjadi orang tua
  7. Perubhan mnjadi orang tua
  8. Perubahan penampilan peran
  9. Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
  10. Gangguan citra tubuh
    1. Dianosa keperawatan keluraga pada masalah afektif
    2. Peubahan proses kelurga
    3. Perubahan menjadi orang tua
    4. Potensial peningkatan menjadi orang tua
    5. Koping keluarga tidak efektif, menurun
    6. Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan
    7. Resiko terhadap tindak kekerasan
      1. Diagnosa keperawtan keluarga dengan masalah fungsi sosial
      2. Perubahan proses keluarga
      3. Perilaku mencari bantuan kesehatan
      4. Konflik peran orang tua
      5. Perubahan menjadi orang tua
      6. Potensial peningkatan menjadi orang tua
      7. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan
      8. Perubahan pemeliharaan kesehatan
      9. Kurang pengetahuan
      10. Isolasi sosial
      11. Kerusakan interaksi sosial
      12. Resiko terhadap tindakan kekerasan
      13. Gangguan identitas diri
        1. Diagnosa keperawatan dengan masalah fungsi perawatan kesehatan
        2. Perubahan pemeliharaan kesehatan
        3. Potensial peningkatan pemeliharaan kesehatan
        4. Perilaku mencari pertologan kesehatan
        5. Keyidakefektifan penatalaksaan aturan teraupetik atau pengobatan
        6. Resiko trhadap penularan penyakit
          1. Diagnosa keperawtan keluarga dengan masalah koping

a.Potensial peningkatan koping

b.Koping keluarga tidak efektif, menurun, dan ketidakampuan

c.Resiko terhadap tindak kekerasan

2)      Prioritas diagnosa keperawatan keluarga

Menurut Setiawati (2008), prioritas masalah didasarkan atas tiga komponen:

a)      Kriteria penilaian

Kriteria  masalah terdiri atas:

(1)   Sifat masalah yang terdiri dari:

(a)    Aktual dengan nilai 3

(b)   Resiko tinggi dengan nilai 2

(c)    Potensial dengan nilai 1

Pembenaran mengacu pada masalah yang sedang baru terjadi, baru menunjukan tanda dan gejala atau bahkan dalam kondisi sehat.

(2)   Kemungkinan masalah untuk diubah

(a)    Mudah dengan nilai 2

(b)   Sebagian dengan nilai 1

(c)    Tidak dapat dengan nilai 0

Pembenaran mengacu pada: masalah, sumber daya keluarga, sumber daya perawat dan sumber daya lingkungan.

(3)   Potensial masalah untuk dicegah:

(a)    Tinggi dengan nilai 3

(b)   Cukup dengan nilai 2

(c)    Rendah dengan nilai 1

Pembenaran mengacu pada berat ringannya masalah, jangka waktu terjadi masalah, tindakan yang akan dilakukan, kelompok resiko tinggi yang bisa dicegah.

(4)   Menonjolnya masalah

(a)    Segera diatasi dengan nilai 2

(b)   Tidak segera diatasi dengan nilai 1

(c)    Tidak dirasakan ada masalah dengan nilai 0.

Pembenaran mengacu kepada: kurang pengetahuan keluarga terhadap masalah.

b)      Bobot

(1)   Sifat masalah dengan bobot 1

(2)   Kemungkinan masalah untuk diubah dengan bobot 2

(3)   Potensial masalah untuk dicegah dengan bobot 1

(4)   Menonjolnya masalah dengan bobot 1.

c)      Pembenaran

(1)   Alasan untuk menentukan sub kriteria

(2)   Dampak terhadap kesehatan keluarga

(3)   Ditunjang dari data hasil pengkajian.

Caranya dapat dilihat pada tabel 2

Tabel 2

Sistim Skoring

NO KRITERIA NILAI BOBOT PEMBENARAN
1. Sifat  Masalah

Skala:

-          Aktual

-          Resiko tinggi

-          Potensial

3

2

1

1 Mengacu pada masalah yang sedang terjadi dengan menunjukan tanda dan gejala atau bahkan dalam kondisi sehat.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah

Skala:

-          Mudah

-          Sebagian

-          Tidak dapat

2

1

0

2 Mengacu pada masalah, sumberdaya keluarga, semberdaya perawat dan sumberdaya lingkungan.
3. Potensi masalah untuk dicegah

Skala :

-          Tinggi

-          Cukup

-          Rendah

3

2

1

1 Mengacu pada berat ringannya masalah, jangka waktu terjadinya masalah, tindakan yang akan dilakukan, kelompok resiko tinggi yang bisa dicegah.
4. Menonjol masalah

Skala:

-          Segera diatasi

-          Tidak segera diatasi

-          Tidak dirasakan ada masalah

2

1

0

1 Mengacu pada kurang pegetahun keluarga terhadap masalah.

Sumber : Santun Setiawati (2008).

 

3)      Skoring

Menurut Effendy (1998), system scoring untuk menentukan prioritas masalah sebagai berikut:

(a)       Tentukan skor untuk setiap kriteria

(b)      Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan dengan

                   Skor    

x    bobot

            Angka tertinggi

Jumlahkan skor untuk semua kriteria

(c)       Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk semua bobot

4)      Berdasarkan masalah yang diangkat oleh peneliti dalam karya tulis ilmiah ini, maka diagnosa keperawatan yang diprioritaskan  adalah ketidaktahuan keluarga tentang masalah kesehatan yang terjadi dalam keluarga.


  1. c.       Perencanaan / Intervensi Keperawatan Keluarga

Menurut Association Nursing American (ANA) yang dikutip oleh (Setiawati, 2008). Mendefenisikan intervensi sebagai rencana tindakan perawat untuk kepentingan klien atau keluarga.

Tujuan umum dalam perencanaan intervensi adalah: untuk meningkatkan pengetahuan keluarga yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan keluarga. Implementasi

Menurut Setiawati (2008), implementasi merupakan aktualisasi dari perencanaan yang telah disusun oleh perawat sebelumnya. Prinsip yang mendasari implementasi keperawatan keluarga antara lain:

1)      Implementasi mengacu pada rencana perawatan yang dibuat.

2)      Implementasi dilakukan dengan tepat memperhatikan prioritas masalah.

3)      Kekuatan-kekuatan keluarga berupa finasial, motivasi, dan sumber-sumber pendukung lainnya jangan diabaikan.

4)      Pendokumentasian implementasi keperawatan keluarga jangan terlupakan dengan menyertakan tanda tangan petugas sebagai bentuk tanggung gugat dan tanggung jawab profesi.

  1. d.      Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap terakhir dalam proses keperawatan keluarga. Evaluasi merupakan tahap terakhir yang menentukan apakah tujuan tercapai sesuai dengan yang ditetapkan dalam tujuan di rencana keperawatan (Setiawati, 2008).

Macam-macam evaluasi:

1)      Evaluasi Struktur

Evaluasi struktur berhubungan erat dengan bahan, tenaga, maupun dana yang diperlukan dalam suatu kegiatan (Setiawati, 2008).

2)      Evaluasi Proses

Evaluasi proses merupakan evaluasi yang dilakukan selama proses kegiatan berlangsung, untuk mencapai kualitas dalam hal penyuluhan kesehatan yang diberikan kepada keluarga dalam upaya mengatasi masalah dalam keluarga.

3)      Evaluasi Hasil

Evaluasi hasil merupakan hasil akhir dari pemberian asuhan keperawatan (Setiawati, 2008). Evaluasi yang diharapkan pada keluarga dalam upaya mengatasi masalah dalam keluarga.

  1. e.       Catatan perkembangan

Catatan perkembangan kesehatan keluarga merupakan indikator keberhasilan tindakan keperawatan keluarga, yang diberikan pada keluarga oleh petugas kesehatan, karakteristik evaluasi dengan pedoman SOAP (Subjek, Objek, Analisa, dan Perencanaan).

 

KONSEP KELUARGA A.    Pengertian Keluarga

Keluarga merupakan komunitas terkecil dalam kehidupan bermasyarakat. terdapat beberapa konsep keluarga. beberapa ahli mengatakan keluarga merupakan sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan dan ahli lain mengungkapkan bahwa keluarga adalah dua individu atau lebih yang hidup dalam satu rumah tangga.

Menurut Duvall dan Logan (1986), dikutip oleh Mubarak, 2006. Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga.

Ciri-ciri keluarga menurut Stanhope dan Lancaster (1995), dikutip oleh Mubarak, 2006.

a.      Diikat dalam suatu tali perkawinan

b.     Ada hubungan darah

c.       Ada ikata batin

d.      Ada tanggung jawab masing-masing anggota

e.       Ada pengambilan keputusan

f.       Kerjasama diantara anggota keluarga

g.      Komunikasi interaksi antar anggota keluarga

h.      Tinggal dalam satu rumah

B.     Tujuan keluarga

Tujuan utama keluarga adalah memenuhi kebutuhan dan kepentingan setiap anggota individu dalam keluarga.

Williams dan Leman (Friedmen 1998) menyatakan bahwa tujuan keluarga adalah menyiapkan anak-anak untuk menerima peran-peran dalam mesyarakat.

C.     Struktur Keluarga

a.          Patrilineal, keluarga sedarah terdiri sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu berasal dari jalur ayah

b.         Matrilineal, keluarga sedarah terdiri sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi , dimana hubungan itu berasal dari jalur ibu

c.           Matrilokal, suami istri tinggal pada keluarga sedarah istri

d.          Patrilokal, suami istri tinggal pada keluarga sedarah suami

e.          Keluarga kawinan, hubungan Suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan sanak saudara baik dari pihak suami dan istri

D.    Pemegang Kekuasaan

a.       Patriakal, dominan dipihak ayah

b.      Matriakal, dominan di pihak ibu

c.       Equalitarian , ayah dan ibu

E.     Peranan Keluarga :

  1. Peranan ayah, pencari nafkah, pendidik, pelindung, rasa aman, sebagai kpepala keluarga.

b.      Peranan ibu, mengurus rumah tangga, pengasuh/pendidik anak, pencari nafkah tambahan.

c.       Peran anak, peran psikososial sesuai tumbuh kembang. Baik mental, fisik, sosial dan spiritual.

F.      Type Keluarga (Mubarak dkk. 2006)

  1. Keluarga inti (nuclear family) terdiri: ayah , ibu dan anaknya dari keturunannya atau adopsi

b.      Keluarga besar (extended family) keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yg masih ada hubungan darah. (kakek, nenek , paman, bibi).

c.       Keluarga berantai (serial family)

Yaitu : keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu dan merupakan satu keluarga inti.

d.      Keluarga duda / janda (single family)

Yaitu : keluarga yang terbentuk karena perceraian/kematian.

e.       Keluarga berkomposisi (composite familiy)yaitu keluarga perkawinan yang berpoligami dan hidup secara bersama-sama.

f.       Keluarga kabitas (kahabitation familiy)

Yaitu : dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.

G.    Tugas Perkembangan Sesuai Dengan Tahap perkembangan (Supartini, 2004) :

Keluarga dengan anak usia prasekolah 3-5 tahun memenuhi kebutuhan Anggota keluarga : rumah, rasa aman,membantu anak untuk bersosialisasi, mempertahankan hubungan yang sehat keluarga intern dan luar, pembagian tanggung jawab, kegiatan untuk stimulasi perkembangan Anak

H.    Fungsi keluarga menurut Friedman (1988), dikutip oleh Mubarak, 2006.  adalah: Fungsi fisik/ pemeliharaan kesehatan, Keluarga memberikan keamanan, kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan istirahat termasuk untuk penyembuhan dari sakit.

I.       Bentuk – bentuk keluarga

1)      Menurut Sussman (1974) dan Maclin (1988) yang dikutip dari Setiawati & Dermawan (2008)” bentuk-bentuk keluarga adalah sebagai berikut :

a)      Keluarga tradisional

(1)                          Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan anak.

(2)                          Pasangan inti adalah keluarga yang terdiri dari suami dan istri saja.

(3)                          Keluarga dengan orang tua tunggal.

(4)                          Bujangan yang tinggal sendirian.

(5)                          Keluarga besar tiga generasi.

(6)                          Pasangan usia pertengahan atau pasangan lansia.

(7)                          Jaringan keluarga besar.

b)      Keluarga non tradisional

(1)                          Keluarga dengan orang tua yang memiliki anak tanpa menikah.

(2)                          Pasangan yang hidup bersama tanpa menikah (kumpul kebo).

(3)                          Keluarga gay.

(4)                          Keluarga lesbi.

(5)                          Keluarga komuni.

2)      Menurut Carter yang dikutip dari buku “Penuntun Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga, Setiawati & Dermawan (2008)” bentuk-bentuk keluarga adalah sebagai berikut :

a)      Keluarga inti (nuclear family)

Keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan anak-anak.

b)   Keluarga besar (extended family)

Keluarga ini ditambah dengan sanak saudara, nenek, kakek,        keponakan, sepupu, paman, bibi dan sebagainya.

c)   Keluarga berantai (serial family)

Keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih  dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.

d)  Keluarga duda atau janda (single family)

Keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.

e)   Keluarga berkomposisi

Keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara  bersama-sama.

f)    Keluarga kabitas

Dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.

J.       Fungsi Keluarga

Menurut Friedman (1986)  yang dikutip dari Setiawati & Dermawan  (2008) fungsi keluarga adalah sebagai berikut :

1)      Fungsi afektif adalah fungsi internal keluarga sebagai dasar kekuatan keluarga. Di dalamnya terkait dengan saling mengasihi, saling mendukung dan saling menghargai antar anggota keluarga.

2)      Fungsi sosialisasi adalah fungsi yang mengembangkan proses interaksi dalam keluarga. Sosialisasi dimulai sejak lahir dan keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi.

3)       Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.

4)      Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarganya yaitu sandang, pangan dan papan.

5)      Fungsi perawatan kesehatan adalah fungsi keluarga untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan dan merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.

K.    Tugas keluarga di bidang kesehatan

Menurut suprajitno (2004) sesuai fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan meliputi:

1)      Mengenal masalah kesehatan keluarga. Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan, segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah terkadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis sehingga orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga.

2)      Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga. Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan kepada orang di lingkungan tempat tinggal keluarga agar memperoleh bantuan.

3)      Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Sering kali keluarga mengambil tindakan yang tepat dan benar, tetapi keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui keluarga sendiri. Dengan demikian, anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh tindakan lanjut atau perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi. Perawatan dapat dilakukan di institusi pelayanan kesehatan atau di rumah apabila keluarga telah memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama.

4)      Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.

5)      Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga.


 

LANDASAN TEORI MEDIS KONJUNGTIVITIS

A. Definisi

Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa jenis Konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tapi ada juga yang memerlukan pengobatan.

Konjungtivitis dapat mengenai pada usia bayi maupun dewasa. Konjungtivitis pada bayi baru lahir, bisa mendapatkan infeksi gonokokus pada konjungtiva dari ibunya ketika melewati jalan lahir. Karena itu setiap bayi baru lahir mendapatkan tetes mata (biasanya perak nitrat, povidin iodin) atau salep antibiotik (misalnya eritromisin) untuk membunuh bakteri yang bisa menyebabkan konjungtivitis gonokokal. Pada usia dewasa bisa mendapatkan konjungtivitis melalui hubungan seksual (misalnya jika cairan semen yang terinfeksi masuk ke dalam mata). Biasanya konjungtivitis hanya menyerang satu mata. Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Jika tidak diobati bisa terbentuk ulkus kornea, abses, perforasi mata bahkan kebutaan. Untuk mengatasi konjungtivitis gonokokal bisa diberikan tablet, suntikan maupun tetes mata yang mengandung antibiotik.

 B.Anatomi Konjungtiva

Konjungtiva merupakan membran mukosa tipis yang membatasi permukaan dalam dari kelopak mata dan melipat ke belakang membungkus permukaan depan dari bola mata, kecuali bagian jernih di tengah-tengah mata (kornea). Membran ini berisi banyak pembuluh darah dan berubah merah saat terjadi inflamasi. Konjungtiva terdiri dari tiga bagian:

1. konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra).

2. konjungtiva bulbaris (menutupi sebagian permukaan anterior bola mata).

3. forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior palpebra dan bola mata).

Meskipun konjungtiva agak tebal, konjungtiva bulbar sangat tipis. Konjungtiva bulbar juga bersifat dapat digerakkan, mudah melipat ke belakang dan ke depan. Pembuluh darah dengan mudah dapat dilihat di bawahnya. Di dalam konjungtiva bulbar terdapat sel goblet yang mensekresi musin, suatu komponen penting lapisan air mata pre-kornea yang memproteksi dan memberi nutrisi bagi kornea.

C.Histologi Konjungtiva:

Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat, superficial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa.

Sel-sel epitel superficial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara merata diseluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel superficial dan di dekat linbus dapat mengandung pigmen.

Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superficial) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.13

Kelenjar air mata asesori (kelenjar Krause dan wolfring), yang struktur dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar krause berada di forniks atas, dan sedikit ada diforniks bawah. Kelenjar wolfring terletak ditepi atas tarsus atas. (Gambar )

D.Epidemiologi

Konjungtivitis bakteri adalah kondisi umum di kalangan kaum muda dan orang dewasa di seluruh Amerika Serikat. Menurut Ferri’s Clinical Advisor, beberapa bentuk konjungtivitis, bakteri dan virus, dapat ditemukan pada 1,6 persen menjadi 12 persen dari semua bayi yang baru lahir di Amerika Serikat. Mata bayi kadang-kadang mungkin bisa terkena beberapa bakteri selama proses kelahiran. Konjungtivitis bakteri juga dapat mempengaruhi bayi yang hanya beberapa minggu. Konjungtivitis bakteri dapat terjadi pada semua ras dan jenis kelamin.

Ada kemungkinan morbiditas okular yang signifikan dalam hal kemerahan di mata, okular pelepasan dan ketidaknyamanan bagi anak-anak yang menderita konjungtivitis bakteri. Kebanyakan orang Amerika gagal untuk mengenali dan mengobati penyakit ini. Ini serius dapat menyebabkan meningitis dan sepsis dan dapat mengancam nyawa.

E.Etiologi

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti :

infeksi oleh virus atau bakteri.

reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang.

iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet

dari las listrik atau sinar matahari yang dipantulkan oleh salju.

pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang, juga bisa menyebabkan konjungtivitis.

Kadang konjungtivitis bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Konjungtivitis semacam ini bisa disebabkan oleh:

entropion atau ektropion.

kelainan saluran air mata.

kepekaan terhadap bahan kimia.

pemaparan oleh iritan.

infeksi oleh bakteri tertentu (terutama klamidia).

Frekuensi kemunculannya pada anak meningkat bila si kecil mengalami gejala alergi lainnya seperti demam. Pencetus alergi konjungtivitis meliputi rumput, serbuk bunga, hewan dan debu.

Substansi lain yang dapat mengiritasi mata dan menyebabkan timbulnya konjungtivitis yaitu bahan kimia (seperti klorin dan sabun) dan polutan udara (seperti asap dan cairan fumigasi).

 F.Manifestasi Klinis

1 Tanda

Tanda-tanda konjungtivitis, yakni:

konjungtiva berwarna merah (hiperemi) dan membengkak.

produksi air mata berlebihan (epifora).

kelopak mata bagian atas nampak menggelantung (pseudoptosis) seolah akan menutup akibat pembengkakan konjungtiva dan peradangan sel-sel konjungtiva bagian atas.

pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai reaksi nonspesifik peradangan.

pembengkakan kelenjar (folikel) di konjungtiva dan sekitarnya.

terbentuknya membran oleh proses koagulasi fibrin (komponen protein).

dijumpai sekret dengan berbagai bentuk (kental hingga bernanah).

2 Gejala

Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih. Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena alergi.

Gejala lainnya adalah:

mata berair

mata terasa nyeri

mata terasa gatal

pandangan kabur

peka terhadap cahaya

terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.

G.Komplikasi

Penyakit radang mata yang tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi. Beberapa komplikasi dari konjungtivitis yang tidak tertangani diantaranya:

glaukoma

katarak

ablasi retina

komplikasi pada konjungtivitis kataral teronik merupakan segala penyulit dari blefaritis seperti ekstropin, trikiasis

komplikasi pada konjungtivitis purulenta seringnya berupa ulkus kornea

komplikasi pada konjungtivitis membranasea dan pseudomembranasea adalah bila sembuh akan meninggalkan jaringan perut yang tebal di kornea yang dapat mengganggu penglihatan, lama- kelamaan orang bisa menjadi buta

komplikasi konjungtivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat mengganggu penglihatan

H.Penatalaksanaan

Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana cara menghindari kontraminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan oleh personal asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis antar pasien.

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %). Penanganannya dimulai dengan edukasi pasien untuk memperbaiki higiene kelopak mata. Pembersihan kelopak 2 sampai 3 kali sehari dengan artifisial tears dan salep dapat menyegarkan dan mengurangi gejala pada kasus ringan.

Pada kasus yang lebih berat dibutuhkan steroid topikal atau kombinasi antibiotik-steroid. Sikloplegik hanya dibutuhkan apabila dicurigai adanya iritis. Pada banyak kasus Prednisolon asetat (Pred forte), satu tetes, QID cukup efektif, tanpa adanya kontraindikasi.

Apabila etiologinya dicurigai reaksi Staphylococcus atau acne rosasea, diberikan Tetracycline oral 250 mg atau erythromycin 250 mg QID PO, bersama dengan pemberian salep antibiotik topikal seperti bacitracin atau erythromycin sebelum tidur. Metronidazole topikal (Metrogel) diberikan pada kulit TID juga efektif. Karena tetracycline dapat merusak gigi pada anak-anak, sehingga kontraindikasi untuk usia di bawah 10 tahun. Pada kasus ini, diganti dengan doxycycline 100 mg TID atau erythromycin 250 mg QID PO. Terapi dilanjutkan 2 sampai 4 minggu. Pada kasus yang dicurigai, pemeriksaan X-ray dada untuk menyingkirkan tuberkulosis.

I.Prognosis

Mata dapat terkena berbagai kondisi. beberapa diantaranya bersifat primer sedang yang lain bersifat sekunder akibat kelainan pada sistem organ tubuh lain, kebanyakan kondisi tersebut dapat dicegah bila terdeteksi awal dan dapat dikontrol sehingga penglihatan dapat dipertahankan.

Bila segera diatasi, konjungtivitis ini tidak akan membahayakan. Namun jika bila penyakit radang mata tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan dan menimbulkan komplikasi seperti Glaukoma, katarak maupun ablasi retina.

PRE PLANNING

PENGKAJIAN DI KELUARGA Ny .W.H PADA Anak J DENGAN PENYAKIT KONJUNGTIVITIS

DI KELURAHAN NUSANIWE RT/RW 003/05

HARI/TGL                       : 05-01-2011

WAKTU                           : 120 Menit

TOPIK KEGIATAN        : Pengkajian

TEMPAT                          : Rumah keluarga Tn M di kelurahan Nusaniwe RT/RW 003/05

  1. Latar Belakang

Keluarga merupakan komunitas terkecil dalam kehidupan bermasyarakat. terdapat beberapa konsep keluarga. beberapa ahli mengatakan keluarga merupakan sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan dan ahli lain mengungkapkan bahwa keluarga adalah dua individu atau lebih yang hidup dalam satu rumah tangga.

Data adalah bahan mentah dengan symbol-simbol tertentu yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan.Data terdiri dari dua tipe yaitu:

  1. Data subjektif adalah data yang didapatkan dari pasien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian.
  2. Data objektif adalah data yang didapatkan dari pasien dengan cara observasi dan dapat diukur.

Data diperoleh dari pasien,orang terdekat,riwayat penyakit,catatan perkembangan,konsultasi,hasil pemeriksaan,perawat lain dan kepustakaan. Pengkajian adalah merupakan tahapan terpenting dalam proses keperawatan, mengingat pengkajian sebagai awal bagi keluarga untuk mengidentifikasi data-data yang ada pada keluarga.

  1. Tujuan
    1. Umum

Setelah melakukan penkajian selama kira-kira 60 menit,diharapkan data yang diperoleh dari keluarga yang dapat menunjang timbulnya masalah kesehatan pada keluarga.

  1. Khusus

Setelah melakukan penkajian diharapkan keluarga dapat memberikan informasi tentang :

  1. Data umum.
  2. Generasi keluarga.
  3. Riwayat tahap perkembangan.
  4. Karakteristik rumah.
  5. Struktur keluarga.
  6. Fungsi keuarga.
  7. Stress dan koping keluarga.
  8. Pemeriksaan fisik keluarga.
  9. Harapan keluarga.
  1. Perserta

Anggota keluarga Tn A.B

  1. Setting waktu
NO WAKTU KEGIATAN PENANGGUNG JAWAB
1

2

3

5 Menit

110 Menit

5 Menit

Perkenalan

Pengkajian

Kontrak waktu

CI Institusi

CI Institusi

CI Institusi

  1. Rencana Evaluasi
    1. Evaluasi struktur

-          Keluarga dapat bekerja sama dengan mahasiswa.

-          Format pengkajian telah disampaikan sebelumya.

  1. Evaluasi proses

-          Keluarga dapat terlibat aktif dalam kegiatan pengumpulan data dan dapat memberikan respon verbal dan non verbal dengan baik.

-          Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan waktu dan strategi pelaksanaan.

  1. Evaluasi hasil

-          Didapatkan dat umum lingkungan,fungsi keluarga,harapan keluarga dan pemeriksaan fisik.

-          Teridentifikasi masalah kesehatan keluarga.
 

ASUHAN KEPERAWATAN

KELUARGA NY W.H PADA ANAK. J DENGAN PENYAKIT KONJUNGTIVITIS

DI KELURAHAN NUSANIWE RT/RW 003/05

Pengkajian tanggal : 05-01-2011

  1. Data Umum
    1.  Nama KK          : Ny . W.H
    2. Usia                    : 40 tahun
    3. Pendidikan         : SD
    4. Pekerjaan            : Buruh Cuci
    5. Alamat               : Air Salobar
    6. Komposisi          :

NO

NAMA

Jenis Kelamin

Hub KK

Umur

Pendidikan

Pekerjaan

1

2

3

4

Ny. W.H

Tn. A

Anak. K

Anak. J

Perempuan

Laki-laki

Perempuan

Perempuan

Ibu

Anak

Anak

Anak

40 thn

19 thn

10 thn

6 thn

SD

SMK

SD

-

Buruh Cuci

Pegawai Toko

-

-

     Genogram 3 Generasi

  1. Type Keluarga

Keluarga Ny.W.H.M merupakan keluarga single family (janda) yang terdiri dari ibu dan anak-anak,di mana suami dari Ny.W.H telah meninggal dunia.

  1. Suku

Ny.W.H berasal dari suku Buton

  1. Agama

Ny.W.H dan keluarga beragama islam dan keluarga sering terlibat dalam pengajian-pengajian yang dilakukan di lingkungannya.

  1. Status social ekonomi

Pendapatan keluarga tiap bulan sekitar Rp.500.000 di dapatkan dari hasil menjadi buruh cuci dan pendapatan anaknya sebagai pegawai toko sebesar Rp. 600.000. Dengan pendapatan yang keluarga miliki keluarga merasa cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

  1. Aktivitas dan rekreasi

Keluarga tidak pernah berekreasi ke tempat manapun karena tempat rekreasi jauh dari tempat tinggal ,namun keluarga hanya bisa berkumpul di rumah bersama-sama anggota keluarga untuk berbincang-bincang dan bercanda gurau bersama-sama.

  1. Riwayat tahap perkembangan
    1. Tahap perkembangan keluarga saat ini

Keluarga Ny W.H berperan sebagai kepala keluaraga yang bertugas untuk mencari nafkah setelah suaminya yang meninggal satu tahun lalu. Selain itu anak Ny W.H setelah lulus SMK bekerja sebagai pegawai toko untuk mencari nfkah tambahan. Anak Ny. W.H yaitu anak K berperan sesuai perkembangannya yaitu sebagai pelajar dan sekarang duduk di kelas 2 SD dan anak bungsu yaitu anak J belum sekolah.

  1. Tahap perkembangan keluarga yang tidak terpenuhi

Tahapan keluarga inti ini merasa sudah dapat memenuhi kebutuhan keluarga dengan baik dari segi ekonomi maupun kesehatan

  1. Riwayat keluarga sebelumnya

Riwayat orang tua dan pihak almarhum suami maupun Ny.W.H tidak mempunyai kebiasaan kawin cerai,pemabuk atau pun judi.

NO

NAMA

Umur

Keadaan Kesehatan

Imunisasi

Masalah Kes

Tindakan yang dilakukan

1

2

3

4

Ny.W.H

Tn.A

Anak K

Anak J

40 thn

19 thn

10 thn

6 thn

Sehat

Sehat

Sehat

Kurang sehat

Tidak tahu

Lengkap

Lengkap

Lengkap

-

-

-

Konjungtivitis

-

-

-

Berobat ke puskesmas

  1. Riwayat penyakit keturunan

Keluarga dari Ny. W.H tidak ada yang mengidap penyakit menular sebelumnya maupun keturunan begitu pula keluarga almarhum suaminya

III. Karakteristik Rumah

  1. Riwayat rumah yang di tempati

Keluarga Ny.W.H menempati sebuah rumah yang merupakan rumah pribadi yang berukuran 8×7 m yang terdiri dari ruang tamu,tiga kamar,satu dapur,satu WC dan kamar mandi.Lantai rumah tampak bersih,hal ini terlihat dari tidak adanya kotoran dilantai.Lantai rumah terbuat dari tehel/keramik,sumber air bersih yangberasal dari PAM yang digunakan untuk air minum dan keperluan lain.Keadaan air tidak terasa,tidak berbau,tidak berwarna dan dalam keadaan bersih.

  1. Karakteristik tetangga dan komunitas

Lingkungan sekitar keluarga Ny.W. H pada umumnya mayoritas beragama Islam dan hubungan social antara keluarga Ny.W. H dan tetangganya baik,pekerjaan tetangga pada umumnya adalah pedagang dan mayoritas suku adalah suku Ambon.lingkungan fisik tetangga bersih.Tidak ada budaya tetangga (minum minuman keras, judi) yang mempengaruhi kesehatan.

  1. Mobilitas geografis keluarga

Keluarga Ny.W.H  mempunyai jarak antara rumah yang cukup berdekatan karena pada umumnya jarak rumah satu dengan lainnya hampir berdekatan.anak-anak dari Ny.W.H  yang lainnya berada di luar kota, Keluarga Ny.W.H tinggal  menetap sejak kerusuhan di Air Salobar.

  1. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Ny.W.H sering mengikuti pengajian yang biasanya diadakan seminggu sekali.dan keluarga sering berkumpul dengan keluarga lainnya dalam menjalankan ibadah.

  1. System pendukung keluarga

Kebutuhan keluarga Ny.W.H untuk hidup setiap hari dapat terpenuhi dengan baik dalam memenuhi kebutuhan hidup tidak bergantung pada keluarga yang lain dan penghasilan yang di dapat per bulan keluarga merasa cukup untuk  kebutuhan keluarga.

IV. Struktur Keluarga

  1. Pola Komunikasi Keluarga

Pola komunikasi yang digunakan adalah pola komunikasi terbuka,apabila ada masalah  selalu didiskusikan bersama dan setiap anggota keluarga selalu bebas untuk mengungkapkan pendapatnya tanpa ditutup-tutupi.Bahasa yang di gunakan adalah bahasa Ambon.

  1. Struktur Kekuatan Keluarga

Pemegang keputusan dikeluarga adalah Ny.W.H namun sebelum mengambil      keputusan Ny.W. H  terlebih dahulu mendiskusikan dengan anggota keluarga.

  1. Struktur Peran

Ny.W.H  adalah kepala keluarga,Tn.A, anak K dan Anak J berperan sebagai anak-anak.

  1. Nilai dan Norma budaya keluarga

Fungsi nilai dan budaya yang dianut keluarga adalah saling menghormati antara anggota keluarga satu dengan yang lainnya dan menghormati orang lebih tua.

Keluarga Ny.W.H  menerapkan aturan sesuai dengan ajaran agama Islam saling menghargai dn menyayangi

  1. Fungsi Keluarga
  2. Fungsi Afektif

Semua anggota keluarga Ny.W.H saling menyayangi satu sama lain,saling perhatian,setiap anggota merasa akrab dengan keluarganya.

  1. Fungsi Sosialisasi

Keluarga Ny.W.H mempunyai hubungan yang baik dengan tetangga dan siapapun yang berhubungan dengan keluarga Ny.W.H

  1. Fungsi Perawatan Keluarga

Keluarga Ny.W.H  mempunyai kebiasaan menggunakan fasilitas kesehatan. Apabila mereka merasa perlu misalnya ada keluarga yang sakit biasanya langsung di bawah ke puskesmas yang tidak terlalu jauh dengan rumah. Anak Ny.W. H telah menderita penyakit konjungtivitis selama dua hari dan keluarga kurang tahu cara untuk mencegah penularan dari penyakit anak J.Pengetahuan keluarga tentang penyakit yang dideritapun kurang terbukti dari pola hidup yang tidak terkontrol dengan baik,pengetahuan tentang pencegahan penularan konjungtivitis tidak di ketahui.

  1. Fungsi Reproduksi

Ny.W.H belum menopause.

VI. Stres Dan Koping Keluarga

  1. Stressor Jangka Pendek

Ny.W. H mengatakan anaknya J yang menderita penyakit konjungtivitis sejak dua hari yang lalu dan sudah dibawa ke puskesmas.Sekarang Anak J  sudah mulai membaik setelah mendapat obat dari puskesmas.Ny.W.H  merasa takut jika penyakit anaknya tertular ke anggota keluarga yang lain.

  1. Stressor Jangka Panjang

Ny. W H mengatakan takut dengan keadaan penyakit anaknya dapat menular ke anggota keluarga yang lain

Keluarga tidak tahu dan tidak mengerti tentang penyakit yang di derita oleh anaknya.

  1. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Masalah

Jika ada anggota keluarga yang sakit langsung dibawa ke puskesmas terdekat,agar tidak menjadi beban pikiran.Dan jika ada masalah dalam keluarga,biasanya masalah itu didiskusikan bersama-sama untuk mencari jalan keluar yang terbaik.

  1. Strategi Koping Yang Digunakan

Biasanya kalau ada masalah didalam keluarga, ditanganni atau dihadapi secara bersama-sama den berusaha mencari jalan keluar bersama-sama.

  1. Strategi Adaptasi Disfungsional

Tidak telihat adaptasi disfungsional.

Pemeriksaan fisik

NO

Komponen

Ny.W. H

Tn. A

Anak K

Anak J

1 Kepala Rambut panjang dan bersih. Rambut hitam, pendek dan agak kotor Rambut hitam, pendek dan agak kotor Rambut hitam, pendek dan bersih
2 Mata Sclera tidak ikterus,konjungtiva tidak anemis,tidak ada peradangan,visus normal. Sclera tidak ikterus,konjungtiva tidak anemis,tidak ada peradangan,visus normal. Sclera tidak ikterus,konjungtiva tidak anemis,tidak ada peradangan,visus normal. Kedua mata merah, lengket dan berlendir ,terlihat puncak yang mengeluarkan rambut

Bengkak meluas ke kedua kelopak mata, tidak ada penurunan tajam penglihatan dan silau terhadap cahaya dan air mata sering keluar dan secret kental

 

3 Telinga Bersih,tidak ada serumen dan tidak ada luka. Bersih,tidak ada serumen dan tidak ada luka. Bersih,tidak ada serumen dan tidak ada luka. Bersih,tidak ada serumen dan tidak ada luka.
4 Hidung Bersih tidak ada skret,dan tidak ada kelainan. Bersih tidak ada skret,dan tidak ada kelainan. Bersih tidak ada skret,dan tidak ada kelainan. Bersih tidak ada skret,dan tidak ada kelainan.
5 Mulut Tidak ada stomatitis dan tidak ada karang gigi. Tidak ada stomatitis dan tidak ada karang gigi. Tidak ada stomatitis dan tidak ada karang gigi. Tidak ada stomatitis dan tidak ada karang gigi.
6 Leher dan Tenggorokan Nyeri tekan (-),tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,limfe  dan tidak ada kesulitan menelan. Nyeri tekan (-),tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,limfe  dan tidak ada kesulitan menelan. Nyeri tekan (-),tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,limfe  dan tidak ada kesulitan menelan. Nyeri tekan (-),tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,limfe  dan tidak ada kesulitan menelan
7 Dada dan Paru Pergerakan dada simetris,vesikuler dan tidak

ada kelainan.

Pergerakan dada simetris,vesikuler dan tidak

ada kelainan.

Pergerakan dada simetris,vesikuler dan tidak

ada kelainan.

Pergerakan dada simetris,vesikuler dan tidak

ada kelainan.

8 Abdomen Tidak kembung dan tidak ada keluhan. Tidak kembung dan tidak ada

keluhan.

Tidak kembung dan tidak ada

keluhan.

Tidak kembung dan tidak ada

keluhan.

9 Ekstremitas Tidak ada kelainan,pergerakan bebas. Tidak ada kelainan,pergerakan bebas. Tidak ada kelainan,pergerakan bebas. Tidak ada kelainan,pergerakan bebas.
10 Kulit Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan. Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
11 Kuku Pendek dan

bersih

Pendek dan

bersih

Pendek dan

bersih

Pendek dan

bersih

12 Tanda-Tanda Vital TD : 120/80 mmhg

N   :  80 x/m

S    :  360c

R   :  18x/m

TD : 110/80 mmhg

N   :  80 x/m

S    :  360c

R   :  18 x/m

TD : -

N   :  90 x/m

S    :  360c

R   :  20 x/m

TD : -

N   :  90 x/m

S    :  360c

R   :  20 x/m

Ket. : tulisan miring menandakan data maladaptif

  1. Pola Kegiatan Keluarga Sehari-Hari

NO

Pola Kebiasaan

Ny W.H

Tn. A

Anak K

Aanak J

1

Minum 9-10 gelas/hari,air putih,dan the gula. 5-6  gelas/hari,air putih dan teh gula. 5-6 gelas/hari,air putih dan teh gula. 5-6 gelas/hari,air putih dan teh gula.

2

Makan 2x sehari,nasi,ikan dan sayur. 2x sehari,nasi,ikan dan sayur. 2x sehari,nasi,ikan dan sayur. 2x sehari,nasi,ikan dan sayur.

3

Mandi 2-3x sehari. 2-3x sehari. 2-3x sehari. 2-3x sehari.

4

Aktitivitas Pekerja sebagai buruh cuci

Pekerja sebagai pegawai toko

-

-

5

Istirahat dan Tidur Tidur siang tidak pernah tidur malam 6-7 jam. Tidur siang 2 jam,malam 8-10 jam. Tidur siang 2 jam,malam 8-10 jam. Tidur siang 2 jam,malam 8-10 jam.

6

Personal Hygiene Cuci rambut 2x seminggu,gosok gigi 2x sehari,menggunakan pasta gigi (pepsodent). Cuci rambut setiap hari tanpa menggunakan sampo ,gosok gigi 3x sehari,mengunakan pasta gigi (pepsodent). Cuci rambut tiap hari tanpa menggunakan sampo,gosok gigi 3x sehari,mengunakan pasta gigi (pepsodent). Cuci rambut  aetiap hari tanpa menggunakan sampo ,gosok gigi 3x sehari,mengunakan pasta gigi (pepsodent).
  1. Harapan Keluarga

Ny W H berharap agar penyakit yang diderita Anak J dapat sembuh dan tidak lagi menderita penyakit konjungtivitis.

Klasifikasi Data

Data subjektif :

  • Ny.W. H mengatakan anaknya J yang menderita penyakit konjungtivitis sejak dua hari yang lalu
  • Keluarga Ny. W H takut dengan keadaan penyakit anaknya dapat menular ke anggota keluarga yang lain karena keluarga tidak tahu dan tidak mengerti tentang penyakit yang di derita oleh istrinya.
  • Ny. W. H mengatakan anaknya kurang nafsu makan. Dari porsi yang dihabiskan hanya 2-3 sendok makan yang dihabiskan.
  • Keluarga Ny W H berharap agar penyakit yang diderita Anak J dapat sembuh dan tidak lagi menderita penyakit konjungtivitis.

Data Objektif

  • Keluarga tidak tahu dan tidak mengerti tentang penyakit yang di derita oleh anaknya.
  • Pengetahuan keluarga tentang penyakit yang dideritapun kurang terbukti dari pola hidup yang tidak terkontrol dengan baik,pengetahuan tentang pencegahan penularan konjungtivitis tidak di ketahui.
  • Kedua mata anak J dari hasil pemeriksaan fisik : merah, lengket dan berlendir ,terlihat puncak yang mengeluarkan rambut. Bengkak meluas ke kedua kelopak mata, tidak ada penurunan tajam penglihatan dan silau terhadap cahaya dan air mata sering keluar dan adanya secret kental

Analisa Data

No

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

1.

Data subjektif :

  • Ny.W. H mengatakan anaknya J yang menderita penyakit konjungtivitis sejak dua hari yang lalu
  • Keluarga Ny. W H takut dengan keadaan penyakit anaknya dapat menular ke anggota keluarga yang lain karena keluarga tidak tahu dan tidak mengerti tentang penyakit yang di derita oleh istrinya.
  • Keluarga Ny W H berharap agar penyakit yang diderita Anak J dapat sembuh dan tidak lagi menderita penyakit konjungtivitis.

Data Objektif

  • Keluarga tidak tahu dan tidak mengerti tentang penyakit yang di derita oleh anaknya.
  • Pengetahuan keluarga tentang penyakit yang dideritapun kurang terbukti dari pola hidup yang tidak terkontrol dengan baik,pengetahuan tentang pencegahan penularan konjungtivitis tidak di ketahui.
  • Kedua mata anak J dari hasil pemeriksaan fisik : merah, lengket dan berlendir ,terlihat puncak yang mengeluarkan rambut. Bengkak meluas ke kedua kelopak mata, tidak ada penurunan tajam penglihatan dan silau terhadap cahaya dan air mata sering keluar dan adanya secret kental

Ketidak mampuan keluarga mengenal masalah kesehatan

Kurangnya pengetahuan

Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga mengenal masalah kesehatan

No

Kriteria

Skala

Bobot

Scoring

Pembenaran

1

2

3

4

Sifat masalah tidak /kurang sehat

Kemungkinan masalah dapat di ubah : mudah

Potensial masalah untuk di cegah : tinggi

Meninjolnya masalah :

Masalah berat , segera sulit di tangani

3

2

3

2

1

2

1

1

3/3×1= 1

2/2×2=1

3/3×1=1

2/2×1=1

Penyakit konjungtivitis yang di derita anak J membuat keluarga resah

Resiko penulalaran terhadap anggota keluarga yang lain dapat dicegah dengan memberikan penyuluhan mengenai bagaimana penularan penyakit anak J

Keluarga Ny W.H cukup mampu untuk melaksanakan

Keadaan keluarga Keluarga Ny. W. H kurang mampuh sehingga apabila masalah muncul langsung segera di tangani dengan membawa pasien ke puskesmas

INTERVENSI

NO

DIAGNOSA
KEPERAWATAN

TUJUAN

 

SASARAN

EVALUASI

INTERVENSI

Umum

Khusus

Kriteria

Standar

1  Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi Setelah di lakukan 2 kali kunjungan, diharapkan agar Pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit , bagaimana merawat  dan pencegahan penularan penyakit konjungtivitis menjadi bertambah. TUK 1

Setelah mendapatkan penyuluhan kesehatan selama 1 x 45 menit diharapkan keluarga mampu :

1        Menjelaskan kembali pengertian konjungtivitis

2        Menyebutkan kembali penyebab konjungtivitis

3        Menyebutkan kembali tanda dan  gejala konjungtivitis

4        Menjelaskan  kembali cara merawat penderita konjungtivitis

5        Menjelaskan kembali pencegahan penularan konjungtivitis ke anggota keluarga yang lain

TUK II

Setelah dilakukan observasi  selama 1 x 45 menit diharapkan  keluarga mampu :

  1. Menjelaskan kembali pengertian konjungtivitis
  2. Menyebutkan kembali penyebab konjungtivitis
  3. Menyebutkan kembali tanda dan  gejala konjungtivitis
  4. Menjelaskan kembali cara merawat penderita konjungtivitis
  5. Menjelaskan kembali pencegahan penularan konjungtivitis ke anggota keluarga yang lain
Anggota Keluarga Ny. W.H

Anggota Keluarga Ny. W.H

Respon verbal dan non verbal

Respon verbal dan non verbal

  1. Menjelaskan kembali pengertian konjungtivitis
  2. Menyebutkan kembali penyebab konjungtivitis
  3. Menyebutkan kembali tanda dan  gejala konjungtivitis
  4. Menjelaskan  kembali cara merawat penderita konjungtivitis
  5. Menjelaskan kembali pencegahan penularan konjungtivitis ke anggota keluarga yang lain

1.Menjelaskan kembali pengertian konjungtivitis

2.Menyebutkan kembali penyebab konjungtivitis

3.Menyebutkan kembali tanda dan  gejala konjungtivitis

4.Menjelaskan kembali cara merawat penderita konjungtivitis

5.Menjelaskan kembali pencegahan penularan konjungtivitis ke anggota keluarga yang lain

  1. Kaji pengetahuan keluarga tentang konjungtivitis
  1. Beri penyuluhan kepada keluarga tentang :
  • Pengertian penyakit konjungtivitis
  • Penyebab penyakit konjungtivitis
  • Tanda dan gejala penyakit konjungtivitis
  • Cara merawat dan pencegahan penulran penyakit konjungtivitis
  • Penatalaksanaan penyakit konjungtivitis
  1. Evaluasi secara singkat mengenai topik yang didiskusikan dengan keluarga.
  2. Anjurkan keluarga untuk selalu berobat ke puskesmas.
  1. Kaji pengetahuan keluarga tentang konjungtivitis
  1. Beri penyuluhan kepada keluarga tentang :
  • Pengertian penyakit konjungtivitis
  • Penyebab penyakit konjungtivitis
  • Tanda dan gejala penyakit konjungtivitis
  • Cara merawat dan pencegahan penulran penyakit konjungtivitis
  • Penatalaksanaan penyakit konjungtivitis
  1. Evaluasi secara singkat mengenai topik yang didiskusikan dengan keluarga.
  2. Anjurkan keluarga untuk selalu berobat ke puskesmas.

SATUAN ACARA PENYULUHAN

DI KELUARGA Ny. W. H

DI KELURAHAN NUSANIWE RT/RW 003/05

 

 

Hari/ tanggal               : 06-01-2011

Waktu                         : 1×50  menit

Topik Kegiatan           : Penyuluhan kesehatan tentang penyakit konjungtivitis

Tempat                        : Rumah keluarga Ny W. H di kelurahan nusaniwe Rt/Rw 003/05

  1. Latar Belakang

Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa jenis Konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tapi ada juga yang memerlukan pengobatan.

Konjungtivitis dapat mengenai pada usia bayi maupun dewasa. Konjungtivitis pada bayi baru lahir, bisa mendapatkan infeksi gonokokus pada konjungtiva dari ibunya ketika melewati jalan lahir. Karena itu setiap bayi baru lahir mendapatkan tetes mata (biasanya perak nitrat, povidin iodin) atau salep antibiotik (misalnya eritromisin) untuk membunuh bakteri yang bisa menyebabkan konjungtivitis gonokokal. Pada usia dewasa bisa mendapatkan konjungtivitis melalui hubungan seksual (misalnya jika cairan semen yang terinfeksi masuk ke dalam mata). Biasanya konjungtivitis hanya menyerang satu mata. Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Jika tidak diobati bisa terbentuk ulkus kornea, abses, perforasi mata bahkan kebutaan. Untuk mengatasi konjungtivitis gonokokal bisa diberikan tablet, suntikan maupun tetes mata yang mengandung antibiotik.

  1. Tujuan
    1. Tujuan Umum

Setelah di lakukan penyuluhan kesehatan  sebanyak 2 kali kunjungan, diharapkan agar keluarga mampu megerti tentang penyakit asma .

  1. Tujuan Khusus

Setelah mendapatkan penyuluhan kesehatan selama 1 x 50 menit diharapkan:

  • Menjelaskan kembali pengertian konjungtivitis
  • Menyebutkan kembali penyebab konjungtivitis
  • Menyebutkan kembali tanda dan gejala  konjungtivitis
  • Menjelaskan kembali cara merawat konjungtivitis
  • Menjelaskan kembali cara mencegah penularan konjungtivitis
  1. Peserta

Anggota keluarga Ny W.H

  1. Setting Waktu

NO

WAKTU

KEGIATAN

PENANGGUNG JAWAB

1

2

3

4

2 menit

30 menit

15 menit

3 menit

Pembukaan

Penyampaian materi

Tanya jawab/diskusi

Penutup dan kontrak yang akan datang.

CI Institusi
  1. Metode
    1. Ceramah
    2. Diskusi atau tanya jawab
  1. Media

Leaflet tentang penyakit konjungtivitis

  1. Rencana Evaluasi
    1. Evaluasi struktur
      1. Keluarga Ny. W H terlihat kooperatif dan aktif dalam beriteraksi dengan mahasiswa.
      2. Evaluasi proses
        1. Keluarga Ny. W H  yang terlihat aktif dalam penyuluhan.
        2. Kelurga dapat memberikan respon verbal/non verbal
  1. Evaluasi hasil
    1. Keluarga dapat menjelaskan kembali pengertian konjungtivitis
    2. Keluarga dapat menyebutkankan kembali penyebab konjungtivitis
    3. Keluarga dapat menyebutkankan kembali tanda dan gejala  konjungtivitis
    4. Keluarga dapat menjelaskan kembali cara merawat konjungtivitis
    5. Keluarga dapat menjelaskan kembali pencegah penularan konjungtivitis

Materi Penyuluhan

A.Pengertian Konjungtivitis

Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata

B.Penyebab

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti :

infeksi oleh virus atau bakteri.

reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang.

 

C.Tanda

Tanda-tanda konjungtivitis, yakni:

konjungtiva berwarna merah dan membengkak.

produksi air mata berlebihan

dijumpai sekret dengan berbagai bentuk (kental hingga bernanah).

 

D.Gejala

Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih. Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena alergi.

Gejala lainnya adalah:

  • mata berair
  • mata terasa nyeri
  • mata terasa gatal
  • pandangan kabur
  • peka terhadap cahaya

E.Pencegahan:

  • Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah dibersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.
  • Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata yang sakit.
  • Jangan menggunakan handuk dan lap bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya.

F.Penatalaksanaan

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (chlorampenicol 0,5 %).

PRE PLANNING

ASUHAN KEPERAATAN DI KELUARGA Ny. W. H

DI KELURAHAN NUSANIWE RT/RW 003/05

Hari/ tanggal               : 06-01-2011

Waktu                         : 1×50  menit

Topik Kegiatan           : Implementasi TUK I

Tempat                        : Rumah keluarga Ny W. H di kelurahan nusaniwe Rt/Rw 003/05

  1. Latar Belakang

Implementasi merupakan aktualisasi dari perencanaan yang telah disusun oleh perawat sebelumnya. Prinsip yang mendasari implementasi keperawatan keluarga antara lain:

a. Implementasi mengacu pada rencana perawatan yang dibuat.

b.Implementasi dilakukan dengan tepat memperhatikan prioritas masalah.

c. Kekuatan-kekuatan keluarga berupa finasial, motivasi, dan sumber-sumber pendukung lainnya jangan diabaikan.

  1. Pendokumentasian implementasi keperawatan keluarga jangan terlupakan dengan menyertakan tanda tangan petugas sebagai bentuk tanggung gugat dan tanggung jawab profesi.
  1. Tujuan

Tujuan Umum

Setelah di lakukan penyuluhan kesehatan  sebanyak 2 kali kunjungan, diharapkan agar keluarga mampu megerti tentang penyakit konjungtivitis

Tujuan Khusus

Setelah dilakukan observasi  selama 1 x 45 menit diharapkan keluarga dapat :

  1. Menjelaskan kembali pengertian konjungtivitis
  2. Menyebutkan kembali penyebab konjungtivitis
  3. Menyebutkan kembali tanda dan gejala  konjungtivitis
  4. Menjelaskan kembali cara merawat konjungtivitis
  5. Menjelaskan kembali cara mencegah penularan konjungtivitis
  1. Peserta

Anggota keluarga Ny W.H

  1. Setting Waktu
NO WAKTU KEGIATAN PENANGGUNG JAWAB

1

2

3

4

2 menit

30 menit

15menit

3 menit

Pembukaan

Penyampaian materi

Tanya jawab/diskusi

Penutup dan kontrak yang akan datang.

CI Institusi
  1. Metode
    1. Ceramah
    2. Diskusi atau tanya jawab
  1. Media

Leaflet tentang konjungtivitis

  1. Rencana Evaluasi

1.Evaluasi struktur

  1. Keluarga Ny. W.H terlihat kooperatif dan aktif dalam beriteraksi dengan mahasiswa.

2.Evaluasi proses

  1. Keluarga Ny. W.H terlihat aktif dalam penyuluhan.
  2. Kelurga dapat memberikan respon verbal/non verbal

3.Evaluasi hasil

  1. Keluarga dapat menjelaskan kembali pengertian konjungtivitis
  2. Keluarga dapat menyebutkankan kembali penyebab konjungtivitis
  3. Keluarga dapat menyebutkankan kembali tanda dan gejala  konjungtivitis
  4. Keluarga dapat menjelaskan kembali cara merawat konjungtivitis
  5. Keluarga dapat menjelaskan kembali pencegah penularan konjungtivitis

IMPLEMENTASI  DAN EVALUASI

NO

Hari/Tanggal/Jam

Diagnosa Keperawatan

Implemantasi

Evaluasi

1 Kamis,06-01-2011

Jam 16.00 Wit

Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga mengenal masalah kesehatan TUK I : Memberi penyuluhan kepada keluarga tentang :

  1. Pengertian penyakit konjungtivitis
  2. Penyebab penyakit konjungtivitis
  3. Tanda dan gejala penyakit konjungtivitis
  4. Cara merawat dan pencegahan penulran penyakit konjungtivitis
  5. Penatalaksanaan penyakit konjungtivitis
  1. Struktur
    1. Keluarga Ny. W.H dapat bekerja  sama dengan mahasiswa.
    2. Keluarga Ny. W.H mengerti maksud dan tujuan hari ini.
  1.  Proses
    1. Keluarga dapat terlihat aktif dalam diskusi.
    2. Keluarga menunjukkan minat kegiatan  atau  tindakan  yang dapat dilakukan.
    3. Keluarga dapat memberikan respon verbal maupun non verbal yang baik.
    4. Keluarga kooperatif selama kegiatan berlangsung.
  1. Hasil
    1. Keluarga dapat menjelaskan sebagian pengertian konjungtivitis
    2. Keluarga dapat menyebutkankan kembali penyebab konjungtivitis
    3. Keluarga dapat menyebutkankan sebagian tanda dan gejala  konjungtivitis
    4. Keluarga dapat menjelaskan kembali cara merawat konjungtivitis
    5. Keluarga dapat menjelaskan kembali pencegah penularan konjungtivitis


PRE PLANNING

ASUHAN KEPERAATAN DI KELUARGA Ny. W. H

DI KELURAHAN NUSANIWE RT/RW 003/05

 

 

Hari/ tanggal               : 06-01-2011

Waktu                         : 1×50  menit

Topik Kegiatan           : Implementasi TUK II

Tempat                        : Rumah keluarga Ny W. H di kelurahan nusaniwe Rt/Rw 003/05

  1. Latar Belakang

Implementasi merupakan aktualisasi dari perencanaan yang telah disusun oleh perawat sebelumnya. Prinsip yang mendasari implementasi keperawatan keluarga antara lain:

e. Implementasi mengacu pada rencana perawatan yang dibuat.

f. Implementasi dilakukan dengan tepat memperhatikan prioritas masalah.

g.Kekuatan-kekuatan keluarga berupa finasial, motivasi, dan sumber-sumber pendukung lainnya jangan diabaikan.

h.Pendokumentasian implementasi keperawatan keluarga jangan terlupakan dengan menyertakan tanda tangan petugas sebagai bentuk tanggung gugat dan tanggung jawab profesi.

  1. Tujuan

Tujuan Umum

Setelah di lakukan penyuluhan kesehatan  sebanyak 2 kali kunjungan, diharapkan agar keluarga mampu megerti tentang penyakit konjungtivitis

Tujuan Khusus

Setelah dilakukan observasi  selama 1 x 45 menit diharapkan keluarga dapat :

  1. Menjelaskan kembali pengertian konjungtivitis
  2. Menyebutkan kembali penyebab konjungtivitis
  3. Menyebutkan kembali tanda dan gejala  konjungtivitis
  4. Menjelaskan kembali cara merawat konjungtivitis
  5. Menjelaskan kembali cara mencegah penularan konjungtivitis
  1. Peserta

Anggota keluarga Ny W.H

  1. Setting Waktu
NO WAKTU KEGIATAN PENANGGUNG JAWAB

1

2

3

4

2 menit

30 menit

15menit

3 menit

Pembukaan

Penyampaian materi

Tanya jawab/diskusi

Penutup dan kontrak yang akan datang.

CI Institusi
  1. Metode
    1. Ceramah
    2. Diskusi atau tanya jawab
  1. Media

Leaflet tentang konjungtivitis

  1. Rencana Evaluasi

4.Evaluasi struktur

  1. Keluarga Ny. W.H terlihat kooperatif dan aktif dalam beriteraksi dengan mahasiswa.

5.Evaluasi proses

  1. Keluarga Ny. W.H terlihat aktif dalam penyuluhan.
  2. Kelurga dapat memberikan respon verbal/non verbal

6.Evaluasi hasil

  1. Keluarga dapat menjelaskan kembali pengertian konjungtivitis
  2. Keluarga dapat menyebutkankan kembali penyebab konjungtivitis
  3. Keluarga dapat menyebutkankan kembali tanda dan gejala  konjungtivitis
  4. Keluarga dapat menjelaskan kembali cara merawat konjungtivitis
  5. Keluarga dapat menjelaskan kembali pencegah penularan konjungtivitis

IMPLEMENTASI  DAN EVALUASI

NO

Hari/Tanggal/Jam

Diagnosa Keperawatan

Implemantasi

Evaluasi

1 Kamis,06-01-2011

Jam 16.0 0 Wit

Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga mengenal masalah kesehatan TUK II : Memberi penyuluhan kepada keluarga tentang :

  1. Pengertian penyakit konjungtivitis
  2. Penyebab penyakit konjungtivitis
  3. Tanda dan gejala penyakit konjungtivitis
  4. Cara merawat dan pencegahan penulran penyakit konjungtivitis
  5. Penatalaksanaan penyakit konjungtivitis
  1. Struktur
    1. Keluarga Ny. W.H dapat bekerja  sama dengan mahasiswa.
    2. Keluarga Ny. W.H mengerti maksud dan tujuan hari ini.

2.Proses

  1. Keluarga dapat terlihat aktif dalam diskusi.
  2. Keluarga menunjukkan minat kegiatan  atau  tindakan  yang dapat dilakukan.
  3. Keluarga dapat memberikan respon verbal maupun non verbal yang baik.
  4. Keluarga kooperatif selama kegiatan berlangsung.

3.Hasil

  1. Keluarga dapat menjelaskan sebagian pengertian konjungtivitis
  2. Keluarga dapat menyebutkankan kembali penyebab konjungtivitis
  3. Keluarga dapat menyebutkankan sebagian tanda dan gejala  konjungtivitis
  4. Keluarga dapat menjelaskan kembali cara merawat konjungtivitis
  5. Keluarga dapat menjelaskan kembali pencegah penularan konjungtivitis

PRE PLANNING

ASUHAN KEPERAATAN DI KELUARGA Ny. W. H

DI KELURAHAN NUSANIWE RT/RW 003/05

 

 

Hari/ tanggal               : 07-01-2011

Waktu                         : 1×50  menit

Topik Kegiatan           : Kegiatan Evaluasi

Tempat                        : Rumah keluarga Ny W. H di kelurahan nusaniwe Rt/Rw 003/05

  1. Latar Belakang

Evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan antara hasil implemantasi dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya. Evaluasi ini dilakukan dalam rangka untuk melihat kembali tujuan keperawatan yang telah dilakukan pada keluarga Ny. W.H dengan kurang pengetahuan berhubunangan dengan ketidakmampuan keluarga mngenal masalah kesehatan

  1. Tujuan
    1. Umum

Setelah dilakukan evaluasi diharapkan keluarga Ny W.H ,sudah mempunyai pengetahuan tentang penyakit Konjungtivitis

  1. Khusus

Setelah dilakukan evaluasi diharapkan keluarga Ny W.H dapat menjelaskan kembali isi materi penyuluhan yang telah diberikan yang dimulai dari pengertian,penyebab,tanda dan gejala,cara merawat dan pencegahan penyakit konjungtivitis

3.Perserta

Anggota keluarga Ny W.H

  1. Setting waktu

NO

WAKTU

KEGIATAN

PENANGGUNG JAWAB

1

2

3

5 Menit

15 Menit

10 Menit

Pembukaan

Evaluasi

Penutup

CI Institusi

CI Institusi

CI Institusi

  1. Rencana Evaluasi
  2. Evaluasi struktur

-          Keluarga dapat bekerja sama dengan mahasiswa.

  1. Evaluasi proses

-          Keluarga dapat terlibat aktif dalam kegiatan evaluasi.

Keluarga dapat memberikan respon verbal dan non verbal.

  1. Evaluasi hasil

-          Keluarga dapat menjelaskan kembali yang telah disampaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Ed 3. Jakarta: Balai penerbit FKUI. 2009

Ilyas, Sidarta, Tanzil, Muzakkir, Salamun, Azhar, Zainal. Sari Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI, Jakarta: 2000.

Media Aesculapius. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1

Setiawati Santun. 2002. Asuhan Keperawatan Keluarga. Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta

Voughan, Daniel G, Asbury, Taylor. Riordan-Eva, Paul. Oftalmologi Umum (General Ophthalmology). Ed. 14. Widya Medika, Jakarta : 2000.

Wijana, Nana S.D. Ilmu Penyakit Mata. Abadi Tegal, Jakarta: 1993. 42-50.14. Ilyas, H. Sidarta Prof. dr. SpM. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI; 2003, hal 2, 134.15. Putz, R. & Pabst R. Sobotta. Jilid 1. Edisi 21. Jakarta: EGC, 2000

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 15 Mei 2011 in Uncategorized

 

Tag:

askep gangguan jiwa sistem penglihatan

LAPORAN PENDAHULUAN

SKIZOFHRENIA

I.                   Landasan Teori Medis

A.    Definisi

Scizofhrenia adalah kelompok gangguan psikotik dengan gangguan dasar pada kepribadian,distorsi kas, prosaes pikir, kadang-kadang mempunyai perasaaan bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya,waham yang kadang-kadang aneh,gangguan persepsi, afek abnormal yang terpadu dengan stimulus nyata atau sebenarnya dan autisme, meskipun demikian kesadaran yang jernih dan kapasitas intelektual biasanya tidak terganggu.

Berdasarkan perjalannan sakitnya, scizofhrenia dibagi dalam 3 fase yaitu :

1.      Fase prodormal

Fase ini merupakan suatu dasar permulaan dalam fungsi

2.      Fase aktif

Fase ini menunjukkan seseorang mengalami gejala psikosis penting

3.      Fase residual

Fase ini adalah peningkatan pengubahan yang masih meninggalkan beka-bekas yang sangat menonjol dari scizofhrenia yaitu : kepribadaian schizoid.

B.     ETIOLOGI

Banyak para ahli berpendapat bahwa scizofhrenia  disebabkan oleh beberapa hal, salah satu teori menganggap scizofhrenia sebagai sindrom yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam sebab antara lain : keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan penyakit lain yang belum diketahui.

Menurut “F .W. MARAMIS 1988 “bahwa hingga sekarang mengetahui dasar sebab masalah scizofhrenia dapat dikatakan factor keturunan menpunyai pengaruh. Faktor yang mempercepat terjadinya factor pencetus adalah penyakit badaniah atau stress psikologis biasanya tidak menyebabkan scizofhrenia walaupun pengaruhnya terhadap suatu penyakit scizofhrenia yang sudah ada tidak dapat di sangkal.

C.    MANIFESTASI KLINIS

Gejala scizofhrenia dapat dibagi menjadi 2 kelompok menurut”Bleuler”yaitu :

1.      Gejala primer

ü  Gangguan proses berfikir

ü  Gangguan

ü  Emosi

ü  Gangguan kemauan

ü  Autisme

2.      Gejala sekunder

ü  Waham

ü  Halusinasi

ü  Gejala katatonik atau gangguan psikomotor yang lain.

D.    KLASIFIKASI

Menurut “Kraepelin “ scizofhrenia dibagi beberapa jenis antara lain :

1.      Scizofhrenia simpleks

Adalah scizofhrenia yang timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama jenis simpleks adalah kadang kala emosi dan terjadi kemunduran dan kemauan gangguan proses berpikir biasanya sukar ditemukan, juga waham dan halusinasi jarang sekali ditemukan. Jenis ini timbul perlahan-lahan pada permulaan, mungkin penderita kurang diperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan . makin lama makin mundur dalam pekerjaan atau pelajaran dan akhirnya mulai terjadi gangguan, bila tidak ada orang yang menolongnya, penderita akan menjadi pengemis atau pelacur dan jahat.

2.      Scizofhrenia hibefrenik

Permulaannya perlahan-lahan/subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara umur 15 sampai 25 tahun. Gejala menyolok adalah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau dootie personality, gangguan psikomotor seperti monerisme, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan, waham dan halusinasi banyak sekali

3.      Scizofhrenia episode akut

Gejala scizofhrenia yang timbul mendadak sekali  dan pasien seperti dalam keadaan mimpi, kesadaran mungkin berkabut, merasa semua ikut berubah dengan keadaannya (keadaan aneroid).

4.      Scizofhrenia residual

Yaitu scizofhrenia dengan gejala-gejala primer tetapi tidak ada gejala-gejala sekunder.

5.      Scizofhrenia afektif

Yaitu scizofhrenia disamping gejala-gejala depresi atau gejala-gejala maniak

6.      Scizofhrenia katatonik

Yaitu scizofhrenia yang timbul pertama kali pada umur 15 sampai 30 tahun, biasanya terjadi secara akut serta di dahului oleh stres emosional, mungkin terjadi gaduh gelisah, stupor katatonik, yaitu :

  1. Stupor katatonik

Klien sama sekali tidak menunjukkan perhatian terhadap lingkungannya, emosinya sangat dangkal, gejala yang penting ialah psikomotor seperti mutisme, mimic muka tampak seperti topeng, stupor, penderita tidak bergerak sama sekali oleh waktu yang lama bila diganti posisinya penderita menentang, negatifisme, makanan ditolak, air ludah ditelan sehingga terkumpul dalam mulut dan meleleh keluar, air seni dan feses ditahan, terdapat glimas dan katelepsi.

  1. Gaduh gelisah

Hiper aktivitas motorik, tidak disertai dengan emosi dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar, penderita terus berbicara atau bergerak menunjukkan stereotipi, manerisme, grimas dan neorologisme, tidak dapat tidur, tidak makan dan minum, sehingga terjadi dehidrasi atau kolaps.

7.      Scizofhrenia paranoid

Scizofhrenia paranoid agak berlainan dari jenis scizofhrenia yang lain dalam hal perjalanan penyakit. Scizofhrenia paranoid perjalanannya agak menyolok, gejala yang menyolok adalah waham primer disertai sekunder dan halusinasi, adanya gangguan proses berfikir, efek emosi dan kemauan. Jenis ini sering timbul sesudah umur 30 tahun. Permulaannya subakut atau akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering digolongkan schizoid, sering tersinggung, sering menyendiri, agak congkak dan kurang percaya pada orang lain. Perilaku yang timbul pada paranoid yaitu : tidak percaya, curiga, delusi, halusinasi pendengaran, permusuhan.

Tingkah laku paranoid mungkin disebabkan karena pengalaman kehilangan yang cepat, nyeri atau sering dikecewakan, curiga pada paranoid yang digunakan sebagai koping untuk melindunginya dari perasaannya. Pada beberapa klien akan menampakkan perilaku minder (HDR), perasaan tidak berdaya, klien merasa orang memimpin agama, politik, dan lain-lain. Perilaku yang lain adalah perasaan takut, menolak makan, isolasi social, menolak pengobatan, percobaan bunuh diri dan ketidakmampuan melakukan aktivitas sendiri atau sehari-hari.

E.     DIAGNOSA

“Kurt Scheiner 1939”, menyusun II gejala rengking pertama dan berpendapat bahwa diagnose Scizofhrenia sudah dapat dibuat bila terdapat 1 gejala dari kelompok A dan 1 gejala dari kelompok B dengan syarat bahwa kesadaran klien tidak menurun.

Gejala-gejala pertama menurut Kurt Scheiner:

1.      Halusinasi pendengaran

  • Pikirannya dapat didengar sendiri
  • Suara-suara yang sedang bertengkar
  • Suara-suara yang mengomentari prilaku klien

2.      Gangguan batas ego

  • Tubuh dan gerakan-gerakan klien dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan dari luar
  • Pikirannya diambil atau di sedot ke luar

F.     PENGOBATAN

Pengobatan harus secepat mungkin karena keadaan psikotik yang lama dapat menimbulkan kemungkinan yang lebih besar bahwa klien menuju kemunduran mental.

Pengobatan yang sering dilakukan dirumah sakit biasanya meliputi Farmakoterphy,  Teraphy Elektro konvulsi, Theraphy Kemoinsulin, Psikotherapy serta rehabilitasi.

Tujuan umum perawatan dirumah sakit adalah ikatan afektif antara pasien dan system pendukung masyarakat.

II.                LANDASAN TEORI KEPERAWATAN

HALUSINASI

1.      Definisi

Halusinasi adalah keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola diri stimulus yang mendekat yang diperkasai secara internal atau eksternal disertai dengan suatu pengurangan berlebihan distarsi/ kelainan berespon terhadap stimulus. (Mary C.T, 1998)

Halusinasi adalah gangguan sensori/persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, suatu pencerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. (Maramis, 1998).

Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mendengar suara padahal tidak ada orang yang berbicara. (buku ajar keperawatan : 105, farida kusmawati dkk, 2010)

2.      Penyebab

a.       Factor predisposisi

ü  Genetika

ü  Neurobiology

ü  Neurotransmitter

ü  Abnormal perkembangan saraf

ü  psikologis

b.      Factor presipitasi

ü  Proses pengolahan informasi yang berlebihan

ü  Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal

ü  Adanya gejala pemicu

3.      Proses halusinasi

Halusinasi berkembang melalui 4 fase menurut farida kusmawati dkk, 106. 2010 yaitu sebagai berikut :

a.       Fase Pertama.

Disebut juga dengan fase comforting yaitu fase menyenangkan. Pada tahap ini masuk pada golongan non psikotik. Karakteristik : klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, rasa bersalah, kesepian yang memuncak, dan tidak dapat diselesaikan. Klien mulai melamun dan memikirkan dan hal-hal yang menyenangkan, cara ini hanya menolong sementara.

Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakkan mata cepat, respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya,dan suka menyendiri.

b.      Fase Kedua

Disebut dengan fase kondemming atau ansietas berat yaitu halusinasi menjadi menjijikan. Termasuk dalam psikotik ringan. Karakteristik : pengalaman sensorik menjijikan dan menakutkan, kecemasan meningkat, melamun dan berfikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas. Klien tidak ingin orang lain tahu dan ia tetap dapat mengontrolnya.

Perilaku klien : meningkatnya tada-tanda system saraf otonom seperti penigkatan denyut jantung dan tekanan darah.klien asyik dengan halusinasinya dan tidak bisa membedakan realitas.

c.       Fasa Ketiga

Adalah fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori menjadi berkuasa termasuk dalam gangguan psikotik. Karakeristik : bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol,  menguasai danmengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.

Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat, tremor dan tidak mampu mematuhi perintah.

d.      Fase Keempat

Adalah fase conquering atau panik yaitu klien lebur dengan halusinasinya. Termasuk dalam psikotik berat. Karakteristik : halusinasinya berubah jadi mengancam, memerintah, dan memarahi klien.klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang control, dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain dilingkungan.

Perilaku klien : perilaku terror akibat panikj, potensi bunuh diri,  perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik, tidak mampu merespon terhadap perintah kompleks, dan tidak mampu berespon lebih dari satu orang.

4.      Tanda dan Gejala

Menurut farida kusmawati dkk, 107. 2010 tanda dan gejala halusinasi adalah :

a.       Menarik diri

b.      Tersenyum sendiri

c.       Duduk terpaku

d.      Bicara sendiri

e.       Memandang satu arah

f.       Menyerang

g.      Tiba-tiba marah

h.      Gelisah

5.      Jenis-jenis halusinasi

1) Halusinasi Pendengaran

Mendengarkan suara-suara/ kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien bahkan sampai ke percakapan lengkap antara 2 orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa pasien, disuruh untuk melakukan sesuatu kadang-kadang dapat membahayakan.

2) Halusinasi Penglihatan

Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks, bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.

3) Halusinasi Penghidu/Penghirup

Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urine, feses, umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghirup sering akibat stroke, tumor, kejang atau demensta.

4) Halusinasi Pengecapan

Merasa mengecap seperti rasa darah, urine atau feses.

5) Halusinasi Perabaan

Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas, rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati, atau orang lain.

6) Halusinasi Chenestetic

Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.

7) Halusinasi Kinesthetic

Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.

6.      Pohon Masalah

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan (efek)

Perubahan persepsi sensori : Halusinasi penglihatan (core problem)

Isolasi social : menarik diri (cause)

7.      Proses keperawatan

Pengkajian

a)      Factor predisposisi

ü  Genetika

ü  Neurobiology

ü  Neurotransmitter

ü  Abnormal perkembangan saraf

ü  psikologis

b)      Factor presipitasi

ü  Proses pengolahan informasi yang berlebihan

ü  Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal

ü  Adanya gejala pemicu

c)      Mekanisme koping

ü  Regresi

ü  Proyeksi

ü  Menarik diri

d)     Perilaku halusinasi

ü  Isi halusinasi

ü  Waktu terjadinya

ü  Frekuensi

ü  Situasi pencetus

ü  Respons klien saat halusinasi

Diagnosa Keperawatan

1.      Resiko menciderai diri.

2.      PSP : halusinasi penglihatan.

3.      Isolasi social : menarik diri.

8.      Rencana Keperawatan

Diagnose keperawatan “halusinasi’’

Tujuan :

ü  Membantu klien mengenal halusinasinya

ü  Menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi

ü  Mengajarkan klien mengontrol halusinasi dengan cara menghardik

SP I P

Menghardik halusinasi

Intervensi

ü  Mengidentifikasi jenis halusinansi

ü  Mengidentifikasi isi halusinansi

ü  Mengidentifikasi waktu halusinansi

ü  Mengidentifikasi frekuensi halusinansi

ü  Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinansi

ü  Mengidentifikasi respon klien terhadap halusinansi

ü  Mengidentifikasi halusinansi

ü  Mengajarkan klien menghardik halusinasi

ü  Menganjurkan klien memasukkan jadwal kegiatan sehari-hari

SP 2 P

Bercakap-cakap dengan orang lain

Intervensi :

ü  Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

ü  Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.

ü  Menganjurkan klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.

SP3P

Melakukan kegiatan atau aktivitas

Intervensi :

ü  Mengevaluasi jadawal kegiatan klien

ü  Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara melakukan kegiatan/aktivitas

ü  Menganjurkan klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian

SP4P

Minum obat secara teratur

Intervensi :

ü  Mengevaluasi jadwal kegiatan klien

ü  Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan/minum obat secara teratur

ü  Membantu klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian

SP1K

Intervensi :

ü  Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien

ü  Menjelaskan pengertian halusinasi tanda dan gejala halusinasi, jenis halusinasi serta proses terjadinya halusinasi

ü  Menjelaskan cara merawat klien halusinasi

SP2K

Intervensi :

ü  Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat klien dengan halusinasi

ü  Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada klien halusinasi

SP3K

Intervensi :

ü  Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat(discharge planning)

ü  Menjelaskan follow up klien setelah pulang

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Nn. T. S

 DENGAN HALUSINASI PENGLIHATAN

I.                   IDENTITAS KLIEN

Inisial                          :           Nn. T. S

Umur                           :           26  tahun

Jenis kelamin               :           perempuan

Agama                         :

Alamat                          :           Batu gantung

Pekerjaan                     :           _

Pendidikan                  :           SMA

Tgl dirawat                  :           16-11-2010

Tgl pengkajian             :           30-11-2010

No. RM                       :           01-27-72

Ruangan                      :           Akut Wanita

Diagnose medis           :           scizofhrenia afektif

II.                FAKTOR PREDISPOSISI (penyakit masa lalu)

ü  Keluarga mengatakan dirumah Pasien kadang suka tertawa dan bicara sendiri dan kadang marah tanpa sebab, dan pasien mengamuk.

ü  Sudah beberapa kali masuk RSKD dan mendapat pengobatan

ü  Tidak  ada anggota klien yang mengalami gangguan jiwa.

Masalah keperawatan : Resiko tinggi mencederai diri/orang lain

III.             FAKTOR PRESIPITASI (penyakit sekarang)

ü  Pasien mengatakan sering melihat potho laki-laki dan kadang kalau bercermin melihat ular di cermin.

Masalah keperawatan : halusinasi penglihatan

IV.             PEMERIKSAAN FISIK

1.      TTV

-          TD             :           110/80 mmhg

-          S                :           36 °C

-          N               :           80 x/mnt

-          R               :           20 x/mnt

2.      Ukuran

-          BB             :           45 kg

-          TB             :           160 cm

3.      Keluhan Fisik

-          Tidak ada keluhan fisik yang dialami klien

V.                PSIKOSOSIAL

1.      Genogram

2.      Konsep diri

a.       Citra tubuh      :

Pasien merasa tubuhnya baik-baik saja tidak ada kekeurangan apapun dan tidak cacat.

b.      Identitas diri   :

Pasien mengetahui tentang dirinya, dia adalah seorang wanita dengan 6 bersaudara dan memiliki saudara kembar.

c.       Peran diri         :

Pasien mengatakan di rumah adalah anak ketiga sedang merawat ibunya yang sakit stroke. Pasien menginginkan mempunyai banyak teman.

d.      Ideal diri         :

Pasien mengatakan di masyarakat susah untuk bergaul karena sering dibilangi orang gila, sehingga merasa minder.

e.       Harga diri        :

Klien kurang berinteraksi dengan pasien lainnya, klien sering menyendiri, klien sering murung, tatapan kosong, satu arah

Masalah keperawatan  : gangguan konsep diri harga diri rendah.

3.      Hubungan social

a.       Orang terdekat                        :

Ibu dan saudara kembar.

b.      Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat      :

Pasien kurang berperan dalam kegiatan masyarakat.

c.       Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain      :

Ada, karena pasien lebih suka di rumah dan merasa malu karena sering dibilangi orang gila sama orang lain.

Masalah keperawatan  : kerusakan interaksi sosial

4.      Spiritual

a.       Nilai dan keyakinan    :

Pasien mengatakan menganut agama Kristen protestan.

b.      Kegiatan ibadah          :

Pasien kadang-kdang melaksanakan ibadah  dengan cara berdoa

Masalah keperawatan : tidak ada masalah

VI.             STATUS MENTAL

1.      Penampilan                        :

Pasien rapi dalam berpakaian, rambutnya tertata rapi, mengganti pakaian setiap kali mandi.

Masalah keperawatan        : tidak ada masalah

2.      Pembicaraan                      :

Pasien lambat dalam berbicara, lebih memilih diam, kurang berespon saat berkomunikasi.

Masalah keperawatan        : kerusakan interaksi sosial

3.      Aktivitas motorik              :

Dalam beraktivitas klien mau bekerja ketika disuruh

4.      Alam perasaan                   :

Pasien kadang-kadang murung, sedih  ketakutan, menatap pada satu arah.

Masalah keperawatan        : halusinasi penglihatan

5.      Afek                                  :

Tumpul, karena pasien berinteraksi apabila ada stimulus/rangsangan.

6.      Interaksi selama wawancara         :

Tidak kooperatif dan kontak mata kurang, sering berbicara sendiri.

Masalah keperawatan : kerusakan interaksi sosial

7.      Persepsi-sensorik               :

Halusinasi penglihatan, karena pasien sering melihat bayangan berupa poto laki-laki di depan matanya, ketika bercermin sering melihat ular di kaca.

Masalah keperawatan        : halusinasi penglihatan


8.      Proses pikir                        :

Koheren, karena pada saat berkomunikasi dengan pasien kalimat atau bicaranya dapat dipahami dengan baik.

9.      Tingkat kesadaran             :

Bingung

10.  Memori                              :

Jangka panjang : klien masih mengingat masa lalunya ketika ia pertama kali masuk rumah sakit tahun tahun 2007

Jangka pendek : klien masih mengingat dengan baik  tentang apa yang  baru saja di sampaikan seperti nama perawat.

11.  Tingkat konsentrasi           :

Ketika diajak berbicara pasien mudah mengalihkan perhatian ke tempat lain.

12.  Kemampuan penilaian       :

Gangguan ringan, pasien bisa memilih mana yang bisa dilakukan terlebih dahulu

13.  Daya tilik diri                    :

Pasien tidak menyadari bahwa dirinya sakit, dan pasien mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Masalah keperawatan        :perubahan proses pikir

 VII.          MEKANISME KOPING

Maladaptife ; pada saat wawancara reaksi pasien terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sangat lambat. Dan mau mengikuti perintah dari perawat misal ; mandi, makan, dan minum obat.

VIII.       ASPEK MEDIK

Tgl 16 – 18 nopember 2010

-          Inj. Govotil 3x1amp

-          Inj. Diazepam 3×1 amp

Tgl 19 – 29 nopember 2010

-          Haloperidol 5 mg 3x1tab

-          Trihexyphenidil ( THP ) 2 mg 3x1tab

-          Chlorpromazine ( CPZ ) 100 mg 1x1tab

Tgl 30 – 1 nopember 2010

-          Haloperidol 3x1tab

-          Trihexypenidil ( THP ) 2mg 3x1tab

IX.             POHON MASALAH

Resiko tinggi menciderai diri/orang lain(efek)

Kerusakan interaksi social

Perubahan proses pikir

Perubahan sensori persepsi: Halusinasi penglihatan (core problem)

Isolasi social; menarik diri

Gangguan konsep diri/HDR (causa)

X.                DIAGNOSA KEPERAWATAN

ü  Gangguan konsep diri harga diri rendah

ü  Resiko tinggi menciderai diri/orang lain

ü  Kerusakan interaksi sosial

ü  Halusinasi penglihatan

ü  Isolasi social; menarik diri

ü  Perubahan proses pikir

XI.             KLASIFIKASI DATA

Data subyektif :

ü  Klien mengatakan ia sering melihat poto laki-laki di depannya, dan kalau becermin sering melihat ular di cermin

ü  Keluarga mengatakan dirumah Pasien kadang suka tertawa dan bicara sendiri dan kadang marah tanpa sebab, dan pasien mengamuk.

ü  Sudah beberapa kali dirawat di RSKD

ü  Pasien mengatakan di masyarakat susah untuk bergaul karena sering dibilangi orang gila, sehingga merasa minder.

ü  klien mengatakan sebagai anggota masyarakat tetapi jarang megikuti kegiatan masyarakat karena pasien merasa malu dibilangi orang gila.

ü  pasien mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Data obyektif  :

ü  Klien kurang berinteraksi dengan pasien lainnya

ü  klien sering menyendiri

ü  tatapan kosong, satu arah

ü  melamun

ü  Pasien lambat dalam berbicara, lebih memilih diam,kurang berespon dan sering menunduk saat berkomunikasi.

ü  Dalam beraktivitas klien mau bekerja ketika disuruh

ü  Pasien kadang-kadang murung

ü  Sedih,  ketakutan

ü  afek Tumpul

ü  Tidak kooperatif

ü  kontak mata kurang

ü  sering berbicara sendiri

ü  Pasien sering mengikuti bayangan ke kamar mandi

ü  Bingung

ü  Ketika diajak berbicara pasien mudah mengalihkan perhatian ke tempat lain.

ANALISA DATA

No

Data

Masalah keperawatan

1.

Ds : keluarga mengatakan

ü  dirumah Pasien marah – marah, merusak dan melempar barang, sering memukul anaknya sendiri

Do:

-

Resiko tinggi mencederai diri/orang lain

2.

Ds :

ü  Klien mengatakan ia sering melihat bayangan bergantungan di kamar mandi

ü  Klien mengatakan ia  sering diikuti bayangan itu

Do :

ü  Klien sering bicara sendirian

ü  Tatapan kosong, satu arah

ü  klien sering menyendiri

ü  melamun

ü  Pasien kadang-kadang murung

ü  Sedih,  ketakutan

ü  Ketika diajak berbicara pasien mudah mengalihkan perhatian ke tempat lain.

ü  Pasien sering mengikuti bayangan ke kamar mandi

ü  afek Tumpul

Halusinasi penglihatan

3.

Ds : pasien mengatakan

ü  dirinya baik-baik saja.

Do :

ü  afek Tumpul

ü  Ketika diajak berbicara pasien mudah mengalihkan perhatian ke tempat lain.Perubahan proses pikir

4.

Ds : pasien mengatakan

ü   Tidak tahu tentang peranya dalam keluarga dan merasa tidak memiliki kemampuan.

Do :

ü  afek Tumpul

ü  kontak mata kurang

ü  Bingung

ü  melamun

ü  Klien kurang berinteraksi dengan pasien lainnya

ü  klien sering menyendiri

ü  Pasien lambat dalam berbicara, lebih memilih diam,kurang berespon dan sering menunduk saat berkomunikasi.

ü  Pasien kadang-kadang murung

ü  Sedih,  ketakutan

Gangguan konsep diri/HDR

5.

Ds :

ü  klien mengatakan sebagai anggota masyarakat tetapi jarang megikuti kegiatan masyarakat karena pasien merasa kurang di perdulikan oleh masyarakat

Do :

ü  Klien kurang berinteraksi dengan pasien lainnya

ü  klien sering menyendiri

ü  Tidak kooperatif

ü  Dalam beraktivitas klien mau bekerja ketika disuruh

ü  Pasien lambat dalam berbicara, lebih memilih diam,kurang berespon dan sering menunduk saat berkomunikasi.Kerusakan interaksi sosial

RENCANA KEPERAWATAN

Nama pasien    : Ny. L L                                             no. RM                        : 01-27-72

Jenis kelamin   : Perempuan

Ruangan          : Akut wanita

No

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

INTERVENSI

1

Perubahan persepsi sensori  Halusinasi penglihatan ü  Klien dapat mengenal halusinasi.ü  Klien dapat mengendalikan/mengontrol halusinasi.

ü  Klien dapat mengendalikan/mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.

ü  Membantu klien dalam berinteraksi dengan klien lain

ü  Meningkatkan kepercayaan diri klien

ü  Meningkatkan harga diri klien dalam bergaul.

ü  Klien dapat melakukan aktivitas secara mandiri

ü  Klien dapat melupakan halusinasi dengan beraktivitas

ü  Klien dapat meminum obat secara teratur

ü  Tidak terjadi kekambuhan pada klien

ü  Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan komunikasi terapetikü  Sapa klien baik dengan verbal dan non verbal

ü  Perkenalkan diri dengan sopan

ü  Tanyakan nama klien,serta nama panggilan yang di sukainya

ü  Jelaskan tujuan pertemuan

ü  Pertahankan kontak mata selama berkomunikasi

ü  Tunjukan sikap empati

SP IP.

ü  .Mengidentifikasi jenis halusinsi

ü  Mengidentifikasi isi halusinsi

ü  Mengidentifikasi saat datangnya halusinasi

ü  frekuensi halusinsi

ü  Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinsi

ü  Mengidentifikasi respon klien terhadap halusinsi

ü  Mengajarkan klien menghardik halusinasi

ü  Menganjurkan klien memasukan kedalam jadwal kegiatan

SP II P.

ü  Mengevaluasi jadwal kegiatan harian  klien

ü  Melatih klien mengndalikan halusinasi dengan cara bercakap cakap dengan orang lain

ü  Menganjurkan klien memasukan kedalam jadwal kegiatan harian

SP III P

ü  Mengevaluasi jadwal kegiatan klien

ü  Melatih klien mengndalikan halusinasi dengan cara melakukan kegiatan/aktivitas

ü  Menganjurkan klien memasukan kedalam jadwal kegiatan harian

SP IV P

ü  Mengevaluasi jadwal kegiatan klien

ü  Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan/minum obat secara teratur.

ü  Menganjurkan klien memasukan kedalam jadwal kegiatan harian

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Hari Pertama

Selasa Tgl 30-11-2010

  1. Proses keperawatan

1.      Kondisi klien

-          Klien sering melamun

-          Klien sering tidur

2.      Diagnosa keperawatan

Resiko tinggi mencederai diri/orang lain

3.      Tujuan keperawatan

ü  Klien dapat mengenal halusinasi.

ü  Klien dapat mengendalikan/mengontrol halusinasi.

ü  Klien dapat mengendalikan/mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.

4.      SP1P

Menghardik halusinasi

5.      Tindakan keperawatan

ü  Mengidentifikasi jenis halusinansi

ü  Mengidentifikasi isi halusinansi

ü  Mengidentifikasi waktu halusinansi

ü  Mengidentifikasi frekuensi halusinansi

ü  Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinansi

ü  Mengidentifikasi respon klien terhadap halusinansi

ü  Mengidentifikasi halusinansi

ü  Mengajarkan klien menghardik halusinasi

ü  Menganjurkan klien memasukkan jadwal kegiatan sehari-hari

  1. Strategi komunikasi dalam pelaksanaan

1.      Fase awal/Orientasi

ü  Salam teraupetik disertai perkenalan

-          Selamat pagi ma?

-          Mengulurkan tangan untuk bersalaman

-          Nama saya mantri ali, saya mahasiswa Akper Kesdam yang bertugas selama 4 hari disini.

-          Kalau boleh tahu, nama mama siapa?

-          Mama senang dipanggil siapa?

ü  Validasi

-          Bagaimana tidurnya semalam ma?

-          Bagaimana perasaan mama hari ini?

ü  Kontrak

-          Topic

Bagaimana kalau kita bercakap-cakap sebentar mengenai perasaan mama pagi ini?

-          Tempat

Gimana kalau kita bercakap-cakap diruangan ini saja?

-          Waktu

Kita berbicara 20 menit saja, gimana ma?

2.      Fase kerja

ü  Apakah mama sering melihat bayangan-bayangan yang mengganggu ketenangan mama?

ü  Mama melihat bayangan apa di kamar mandi?

ü  Apakah bayangan itu terus-menerus mengganggu mama?

ü  Pada keadaan apa mama mellihat bayangan itu?

ü  Apakah pada saat mama sendirian?

ü  Apa yang mama lakukan bila melihat bayangan-bayangan itu?

ü  Bagaimana kalau kita belajar tentang cara menghilangkan bayangan-bayangan itu dari penglihatan mama, yaitu dengan cara menghardik haliusinasi.

Caranya seperti ini :

Bila bayangan-bayangan itu muncul lagi mama lakukan dengan cara ini, tutup kedua mata mama, kemudian katakana “saya tidak mau lihat, kamu palsu”katakan secara berulang sampai bayangan itu hilang dari pandangan mata mama, bisa lakukan, bagus…coba mama lakukan sekali lagi, bagus….berarti mama sudah bisa lakukan sendiri.

3.      Terminasi

ü  Evaluasi subyektif

Bagaimana perasaan mama setelah becakap-cakap?

ü  Evaluasi subyektif

Coba mama sebutkan penyebab sehingga mama dapat mendengar bayangan-bayangan itu?

ü  Rencana tindak lanjut (RTL)

Baiklah, waktu kita sudah habis, saya harap mama dapat mengenal saya dan kita bisa melanjutkan pembicaraan ini. Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi untuk belajar”bercakap-cakap dengan orang lain”agar bisa mengalihkan perhatian mama untuk tidak melihat bayangan-bayangan itu lagi.

ü  Kontrak yang akan datang

-          Topic

Mama bagaimana kalau besok kita ketemu lagi untuk melanjutkan percakapan tentang cara mengontrol/mengendalikan halusinasi itu lagi?

-          Waktu

Kira-kira jam berapa ma? bagaimana kalau besok jam 10.00 WIT atau seperti jam begini?

-          Tempat

Mama, mau dimana kita bicara? Apakah disini lagi atau ditempat lain supaya suasananya lebih baik?

Baik mama, terimakasih untuk hari ini, sampai ketemu besok di waktu yang sama, selamat siang ma.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Hari Kedua

Rabu Tgl 01-12-2010

  1. Proses keperawatan

1.      Kondisi klien

-          Klien sering melamun

-          Klien sering tidur

2.      Diagnose keperawatan

Resiko tinggi mencederai diri/orang lain.

Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendenglihatan

3.      Tujuan keperawatan

ü  Membantu klien dalam berinteraksi dengan klien lain

ü  Meningkatkan kepercayaan diri klien

ü  Meningkatkan harga diri klien dalam bergaul.

4.      SP2P

Bercakap-cakap dengan orang lain

5.      Tindakan keperawatan

ü  Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien

ü  Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.

ü  Menganjurkan klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.

  1. Strategi komunikasi dalam pelaksanaan

a.       Fase awal/Orientasi

ü  Salam teraupetik disertai perkenalan

-          Selamat pagi ma?

-          Mengulurkan tangan untuk bersalaman

-          Masih ingat saya tidak ma?

ü  Validasi

-          Mama, masih ingat sama saya tidak?

-          Gimana tidurnya semalam?

-          Apakah mama masih ingat dengan apa yang kita bicarakan kemarin?

ü  Kontrak

-          Topic

Mama, bagaimana kalau hari ini kita berbicara tentang bayangan-bayangan yang sering mama lihat?

-          Waktu

Pagi ini, kita hanya berbicara selama 25 menit saja, gimana?

-           Tempat

Sesuai dengan perjanjian kita kemarin, bahwa kita akan bercakap-cakap diruangan ini saja?

b.      Fase kerja

-          Selamat pagi ma?

-          Mengulurkan tangan untuk bersalaman

-          Mama masih ingat saya atau tidak?

-          Mama mampu melakukan kegiatan apa hari ini?

-          Apakah mama masih sering melihat bayangan-bayangan itu?

-          Apakah dengan cara yang pertama itu sudah hilang?

-          Bagaimana kalau kita belajar cara mengendalikan/mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain(klien/perawat)

Caranya seperti ini.

Bila bayangan-bayangan itu muncul mama lakukan dengan cara menghindar dan segera pergi tinggalkan bayangan itu kemudian cari klien/perawat kemudian mama berceritatentang apa yang mama lihat tadi, begitu seterusnya apa bila mama lihat bayangan itu, bisa lakukan, bagus…..coba mama lakukan sekali lagi, bagus….berarti mama sudah bisa melakukan sendiri.

c.       Terminasi

ü  Evaluasi subyektif

Apakah mama mengerti apa yang baru saja kita bicarakan?

ü  Evaluasi obyektif

coba mama sebutkan apa yang mama lakukan bila mama melihat bayangan-bayangan itu lagi?

ü  Rencana tindak lanjut (RTL)

Baiklah, waktu kita sudah habis, saya harap mama dapat mengingat apa yang telah kita bicarakan tadi dan kita bisa melanjutkan pembicaraan ini. Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi untuk belajar”melakukan kegiatan/aktivitas”agar bisa mengalihkan perhatian mama untuk tidak melihat bayangan-bayangan itu lagi.

ü  Kontrak yang akan datang

ü  Topic

Mama bagaimana kalau besok kita ketemu lagi untuk melanjutkan percakapan tentang menghadapi bayangan-bayangan itu lagi?

ü  Waktu

Kira-kira jam berapa ma? bagaimana kalau besok jam 10.00 WIT atau seperti jam begini?

ü  Tempat

Mama, mau dimana kita bicara? Apakah disini lagi atau ditempat lain supaya suasananya lebih baik dari yang sekarang?

Baik mama, terima kasih untuk hari ini, sampai ketemu besok di waktu yang sama, selamat siang ma.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Hari Ketiga

Kamis Tgl 2-12-2010

A.    Proses keperawatan

1.      Kondisi klien

-          Klien sering melamun

-          Klien mnegatakan masih sering melihat bayangan-bayangan yang membuat dia marah

-          Klien sering tidur

2.      Diagnose keperawatan

-          Perubahan persepsi sensori: Halusinasi penglihatan

-          Isolasi social menarik diri.

3.      Tujuan keperawatan

Klien dapat melakukan aktivitas secara mandiri

Klien dapat dapat melupakan halusinasi dengan beraktivitas

4.      SP3P

Melakukan kegiatan/aktivitas

5.      Tindakan keperawatan

ü  Mengevaluasi kegiatan klien

ü  Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara melakukan kegiatan/aktivitas

ü  Menganjurkan klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian

B.     Strategi komunikasi dalam pelaksanaan

1.      Fase awal/Orientasi

ü  Salam teraupetik disertai perkenalan

-          Selamat pagi ma?

-          Mengulurkan tangan untuk bersalaman

-          Mama masih ingatkan dengan saya?

ü  Validasi

-          Bagaimana tidurnya semalam ma?

-          Bagaimana perasaan mama pagi ini?

-          Apakah mama masih ingat dengan apa yang kita bicarakan kemarin?

-          Bagus, ternyata mama masih ingat dengan apa yang kita bicarakan kemarin.

ü  Kontrak

-          Topic

Bagaimana kalau pagi ini kita  bercakap-cakap tentang yang kemarin?

-          Tempat

Gimana kalau kita bercakap-cakap diruangan ini saja?

-          Waktu

Pagi ini gimana kalau kita bercakap-cakap 20 menit saja?

2.      Fase kerja

ü  Selamat pagi ma?

ü  Mengulurkan tangan untuk bersalaman

ü  Mama masih ingat saya atau tidak?

ü  Mama hari ini kegiatannya apa?

ü  Apakah mama masih sering melihat bayangan-bayangan itu?

ü  Apakah dengan cara yang pertama itu sudah hilang?

ü  Bagaimana kalau kita belajar cara yang ketiga yaitu mengendalikan/mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas dengan orang lain(klien/perawat)

Caranya seperti ini.

Bila bayangan-bayangan itu muncul mama panggil perawat kemudian mama bercerita tentang apa yang mama lihat tadi, trus mama minta ijin keluar untuk berolah raga sama-sama,begitu seterusnya apa bila mama lihat bayangan itu, bisa lakukan, bagus…..coba mama lakukan sekali lagi, bagus….berarti mama sudah bisa melakukan sendiri

ü  Mama hari ini kita olah raga volley di lapangan?.

3.      Terminasi

ü  Evaluasi subyektif

Apakah mama mengerti apa yang sedang kita bicarakan tadi?

ü  Evaluasi subyektif

Coba mama sebutkan, apa yang mama ketahui tentang halusinasi? Apa saja yang mama lakukan jika melihat bayangan-bayangan itu?

ü  Rencana tindak lanjut (RTL)

Baiklah, waktu kita sudah habis, saya harap mama dapat mengingat apa yang telah kita bicarakan tadi dan kita bisa melanjutkan pembicaraan ini. Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi untuk belajar”minum obat secara teratur”agar bisa mengalihkan bayangan-bayangan itu lagi dan mama segera sembuh.

ü  Kontrak yang akan datang

-          Topic

Mama bagaimana kalau besok kita ketemu lagi untuk melanjutkan percakapan ini lagi?

-          Waktu

Kira-kira jam berapa ma? bagaimana kalau besok jam 10.00 WIT atau seperti jam begini?

-          Tempat

Mama, mau dimana kita bicara? Apakah disini lagi atau ditempat lain supaya suasananya lebih baik dari yang sekarang?

Baik mama, terima kasih untuk hari ini, sampai ketemu besok di waktu yang sama, selamat siang ma.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Hari Keempat

Jum’at Tgl 3-12-2010

A.    Proses keperawatan

1.      Kondisi klien

-          Klien sering melamun

-          Klien mengatakan masih sering melihat bayangan-bayangan yang membuat dia marah

-          Klien sering tidur

2.      Diagnose keperawatan

Perubahan sensori persepsi: Halusinasi penglihatan

3.      Tujuan keperawatan

Klien dapat meminum obat secara teratur

Tidak terjadi kekambuhan pada klien

4.      SP4P

Meminum obat secara teratur

5.      Tindakan keperawatan

ü  Mengevaluasi jadwal kegiatan klien

ü  Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan/minum obat secara teratur

ü  Membantu klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian

B.     Strategi komunikasi dalam pelaksanaan

1.      Fase awal/Orientasi

ü  Salam teraupetik disertai perkenalan

-          Selamat pagi ma?

-          Mengulurkan tangan untuk bersalaman

ü  Validasi

-          Bagaimana tidurnya semalam ma?

-          Apakah mama masih ingat tentang pembicaraan kemarin?

-          Bagus, ternyata mama masih ingat apa yang kita bicarakan kemarin.

ü  Kontrak

-          Topic

Bagaimana kalau siang ini kita bercakap-cakap tentang bagaimana mengontrol/mengendalikan halusinasinya mama?

-          Tempat

Gimana kalau kita bercakap-cakap ditaman sebelah sini saja?

-          Waktu

Siang ini kita berbicara 20 menit saja, gimana ma?

2.      Fase kerja

-          Selamat siang ma?

-          Mengulurkan tangan untuk bersalaman

-          Mama hari ini sesaui dengan perjanjian kemarin, kita akan berbicara bagaimana cara minum obat yang benar.

-          Mulai sekarang mama harus rajin minum obat supaya mama cepat sembuh

-          Mama obat itu sangat penting untuk kesembuhan mama, kalau mama minum dengan teratur dan tidak putus obat maka mama dapat sembuh dengan cepat.

-          Kalau waktunya mama minum obat terus mama belum minum segera panggil suster?

-          Mama mengerti tidak apa yang saya bilang?

3.      Terminasi

ü  Evaluasi subyektif

Apakah mama mengerti apa yang baru saja kita bicarakan?

ü  Evaluasi subyektif

Coba mama sebutkan apa yang mama lakukan jika melihat bayangan-bayangan itu?

ü  Rencana tindak lanjut (RTL)

Baiklah, waktu kita sudah habis, saya harap mama akan selalu ingat dengan apa yang kita bicarakan hari ini dan kemarin-kemarin dan mama jangan lupa sama saya ya ma?

ü  Kontrak yang akan datang

-          Topic

Mama bagaimana kalau besok kita ketemu lagi untuk melanjutkan tentang pembicaraan ini?

-          Waktu

Kira-kira besok jam berapa ma?

-          Tempat

Mama, maunya dimana kita berbincang-bincang, bagaimana kalau di taman sini saja?

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

IMPLEMENTASI

EVALUASI

Tanggal 30-11-2010

Pukul   : 10 00wit

ü  Salam teraupetik disertai perkenalan

  • Selamat siang ma? Sambil Mengulurkan tangan untuk bersalaman
  • Boleh kita berkenalan…..? perkenalkan …Nama saya ali,  biasa di panggil yani … saya mahasiswa Akper kesdam xvi/pattimura yang bertugas selama 4 hari disini
  • Kalau boleh tahu, nama mama siapa?
  • Mama senang dipanggil siapa?
  • Bagaimana perasaan mama hari ini?
  • Bagaimana kalau kita bercakap-cakap sebentar mengenai perasaan mama siang ini?
  • Gimana kalau kita bercakap-cakap diruangan ini saja?
  • Kita berbicara 20 menit saja, gimana ma?

ü  Apakah mama sering melihat bayangan-bayangan yang mengganggu ketenangan mama?

ü  Mama melihat bayangan apa di kamar mandi?

ü  Apakah bayangan itu terus-menerus mengganggu mama?

ü  Pada keadaan apa mama melihat bayangan itu?

ü  Apakah pada saat mama sendirian?

ü  Apa yang mama lakukan bila melihat bayangan-bayangan itu?

ü  Bagaimana kalau kita belajar tentang cara menghilangkan bayangan-bayangan itu dari penglihatan mama, yaitu dengan cara menghardik haliusinasi.

Caranya seperti ini :

Bila bayangan-bayangan itu muncul lagi mama lakukan dengan cara ini, tutup kedua mata mama, kemudian katakana “saya tidak mau lihat, kamu palsu”katakan secara berulang sampai bayangan itu hilang dari pandangan mata mama, bisa lakukan, bagus…coba mama lakukan sekali lagi, bagus….berarti mama sudah bisa lakukan sendiri.

ü  Rencana tindak lanjut (RTL)

Baiklah, waktu kita sudah habis, saya harap mama dapat mengenal saya dan kita bisa melanjutkan pembicaraan ini. Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi untuk belajar”bercakap-cakap dengan orang lain”agar bisa mengalihkan perhatian mama untuk tidak melihat bayangan-bayangan itu lagi.

ü  Kontrak yang akan datang

  • Mama bagaimana kalau besok kita ketemu lagi untuk melanjutkan percakapan tentang cara mengontrol/mengendalikan halusinasi itu lagi?
  • Kira-kira jam berapa ma? bagaimana kalau besok jam 10.00 WIT atau seperti jam begini?
  • Mama, mau dimana kita bicara? Apakah disini lagi atau ditempat lain supaya suasananya lebih baik?
  • Baik mama, terimakasih untuk hari ini, sampai ketemu besok di waktu yang sama, selamat siang ma.

Tanggal 30-11-2010

Pukul   : 10 40wit

S : pasien mengatakan :

ü  Selamat siang.. boleh..( sambil mengulurkan tangan) nama saya Lussy…  panggil saja lussy,… saya tinggal di bentas…

ü  Perasaan hari ini baik saja….

ü  Iya di tempat ini saja……..

ü  Iya saya sering melihat bayagan-bayangan…

ü  Bayangan itu muncul diwaktu-waktu siang hari sekitar jam 10 keatas

ü  Pada saat saya melihat bayangan itu saya selalu berteriak sambil mengikuti bayangan itu

O:

ü  Mama lussy  mampu menyebutkan namanya

ü  Kontak mata kurang

ü  Terkadang tampak diam

ü  Sering menatap kea rah lain

ü  Mama lussy menerima kontrak pebincangan untuk hari esok

A :

Hubungan saling percaya di tingkatkan

SP1P teratasi

P :

lanjutkan SP2P

IMPLEMENTASI

EVALUASI

Hari ke2 tanggal 1-12- 2010

Pukul 10.00wit

ü  Salam teraupetik disertai bersalaman

  • Selamat pagi ma?
  • Mengulurkan tangan untuk bersalaman
  • Mama, masih ingat sama saya tidak?
  • Gimana tidurnya semalam?
  • Apakah mama masih ingat dengan apa yang kita bicarakan kemarin?
  • Mama, bagaimana kalau hari ini kita berbicara tentang bayangan-bayangan yang sering mama lihat?
  • Pagi ini, kita hanya berbicara selama 25 menit saja, gimana ma?
  • Sesuai dengan perjanjian kita kemarin, bahwa kita akan bercakap-cakap diruangan ini saja?

ü  Apakah mama masih sering melihat bayangan-bayangan itu?

ü  Apakah dengan cara yang pertama itu sudah hilang?

ü  Bagaimana kalau kita belajar cara mengendalikan/mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain(klien/perawat)

Caranya seperti ini.

Bila bayangan-bayangan itu muncul mama lakukan dengan cara menghindar dan segera pergi tinggalkan bayangan itu kemudian cari klien/perawat kemudian mama berceritatentang apa yang mama lihat tadi, begitu seterusnya apa bila mama lihat bayangan itu, bisa lakukan, bagus…..coba mama lakukan sekali lagi, bagus….berarti mama sudah bisa melakukan sendiri.

ü  Rencana tindak lanjut (RTL)

Baiklah, waktu kita sudah habis, saya harap mama dapat mengingat apa yang telah kita bicarakan tadi dan kita bisa melanjutkan pembicaraan ini. Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi untuk belajar”melakukan kegiatan/aktivitas”agar bisa mengalihkan perhatian mama untuk tidak melihat bayangan-bayangan itu lagi.

ü  Kontrak yang akan datang

ü  Topic

Mama bagaimana kalau besok kita ketemu lagi untuk melanjutkan percakapan tentang menghadapi bayangan-bayangan itu lagi?

ü  Waktu

Kira-kira jam berapa ma? bagaimana kalau besok jam 10.00 WIT atau seperti jam begini?

ü  Tempat

Mama, mau dimana kita bicara? Apakah disini lagi atau ditempat lain supaya suasananya lebih baik dari yang sekarang?

ü  Baik mama, terima kasih untuk hari ini, sampai ketemu besok di waktu yang sama, selamat siang ma.Hari ke2 tanggal 1-12- 2010

Pukul 10.35wit

S : pasien mengatakan :

ü  Pagi juga……..

ü  Iya saya masih ingat… nama ali to….?

ü  Boleh…….

ü  Saya masih sering melihat bayangan – bayangan itu

ü  Kalau dengan cara yang pertama belum bisa….. saya masih melihat

ü  Klien mengatakan mengerti dengan perbincangan tadi

ü  Klien mengatakan akan melakukan cara yang di ajarkan tadi bila muncul bayangan.

O:

ü  Kontak mata masih kurang

ü  Kadang tampak diam

ü  Klien tampak tidak tenang

ü  Klien tampak memahami cara bercakap cakap dengan orang lain seperti yang sudah di ajarkan.

ü  A :

bercakap – cakap dengan orang lain di tingkatkan SP2P teratasi

ü  P :

Lanjutkan SP3P

IMPLEMENTASI

EVALUASI

Hari ke 3 tanggal 2-12- 2010

Pukul 10.00wit

ü  Selamat pagi ma? Sambil Mengulurkan tangan untuk bersalaman…….

  • Mama masih ingat saya atau tidak?
  • Mama hari ini kegiatannya apa?
  • Apakah mama masih sering melihat bayangan-bayangan itu?
  • Apakah dengan cara yang kedua itu sudah hilang?

ü  Bagaimana kalau kita belajar cara yang ketiga yaitu mengendalikan/mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas dengan orang lain(klien/perawat)

Caranya seperti ini.

Bila bayangan-bayangan itu muncul mama panggil perawat kemudian mama bercerita tentang apa yang mama lihat tadi, trus mama minta ijin keluar untuk berolah raga sama-sama,begitu seterusnya apa bila mama lihat bayangan itu, bisa lakukan, bagus…..coba mama lakukan sekali lagi, bagus….berarti mama sudah bisa melakukan sendiri

ü  Rencana tindak lanjut (RTL)

Baiklah, waktu kita sudah habis, saya harap mama dapat mengingat apa yang telah kita bicarakan tadi dan kita bisa melanjutkan pembicaraan ini. Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi untuk belajar”minum obat secara teratur”agar bisa mengalihkan bayangan-bayangan itu lagi dan mama segera sembuh.

ü  Kontrak yang akan datang

Mama bagaimana kalau besok kita ketemu lagi untuk melanjutkan percakapan ini lagi?

ü  Kira-kira jam berapa ma? bagaimana kalau besok jam 10.00 WIT atau seperti jam begini?

ü  Mama, mau dimana kita bicara? Apakah disini lagi atau ditempat lain supaya suasananya lebih baik dari yang sekarang?

ü  Baik mama, terima kasih untuk hari ini, sampai ketemu besok di waktu yang sama, selamat siang ma.ü  Hari ke 3 tanggal 2-12- 2010

ü  Pukul 10.25wit

S : pasien mengatakan :

ü  Selamat pagi…

ü  Iya masih ingat….

ü  Sudah sedikit membantu kalau pakai cara yang kedua…

ü  Iya…. Boleh kita lanjut ke cara yang lain

O:

ü  Pasien tampak mengerti dengan cara ketiga yang di ajarkan

ü  Interaksi pasien sudah membaik

ü  Kontak mata sudah bisa di pertahankan

ü  Pasien tampak nyambung saat berbicara

A :

ü  Hubungan saling percaya di tingkatkan SP3P teratasi

P :

ü  Lanjutkan SP4P

IMPLEMENTASI

EVALUASI

Hari ke 4 tanggal 3-12- 2010

Pukul 10.00wit

ü  Selamat siang ma?

ü  Mengulurkan tangan untuk bersalaman

ü  Mama hari ini sesaui dengan perjanjian kemarin, kita akan berbicara bagaimana cara minum obat yang benar.

ü  Mulai sekarang mama harus rajin minum obat supaya mama cepat sembuh

ü  Mama obat itu sangat penting untuk kesembuhan mama, kalau mama minum dengan teratur dan tidak putus obat maka mama dapat sembuh dengan cepat.

ü  Kalau waktunya mama minum obat terus mama belum minum segera panggil suster?

ü  Mama mengerti tidak apa yang saya bilang?

ü  Rencana tindak lanjut (RTL)

Baiklah, waktu kita sudah habis, saya harap mama akan selalu ingat dengan apa yang kita bicarakan hari ini dan kemarin-kemarin dan mama jangan lupa sama saya ya ma?

ü  Kontrak yang akan datang

ü  Topic

Mama bagaimana kalau besok kita ketemu lagi untuk melanjutkan tentang pembicaraan ini?

ü  Waktu

Kira-kira besok jam berapa ma?

ü  Tempat

Mama, maunya dimana kita berbincang-bincang, bagaimana kalau di taman sini saja?Hari ke 4 tanggal 3-12- 2010

Pukul 10.45wit

S : pasien mengatakan :

ü  Selamat siang….

ü  Iya saya akan mengikuti apa yang tadi di sampaikan…..

O:

ü  Klien tersenyum

ü  Klien tampak mengerti dengan perbincangan tadi

A :

ü  minum obat secara teratur di tingkatkan

P :

ü  SP4P di dipertahankan

ü

Daftar pustaka

 

Kusumawati Farida & Hartono Yudi, “Buku Ajar Keperawatan Jiwa” Jakarata : Salemba Medika, 2010

Stuart & Sudden “Buku Saku Keperawatan Jiwa”

Budiana Keliat (1999), “Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa”, Jakarta, EGC

Kaplan & Sadock (1998), “Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat”, Jakarta, Widya Medika

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 15 Mei 2011 in Uncategorized

 

Tag: , ,

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
 
1 Komentar

Posted by pada 13 Mei 2011 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.